DWI AGUS/RADAR JOGJA
BERKEMBANG: Penampilan Wayang Orang Panca Budaya dalam pementasan keliling DIJ yang mendapat perhatian dari penonton, termasuk kalangan anak-anak muda.
JOGJA – Upaya pelestarian wayang orang gaya Jogjakarta di Provinsi DIJ telah memasuki tahapan yang menggembirakan. Paguyuban Wayang Orang (WO) Panca Budaya yang didirikan tahun lalu telah berkembang. Ini terlihat dari generasi penerus yang didominasi oleh usia muda.Pimpinan produksi Panca Bu-daya Agus Setiawan mengemu-kakan, tahapan awal terus ber-tumbuh.
Panca budaya berdiri dengan mewadahi seniman lima kabupaten/ kota di DIJ. Dalam perjalanannya banyak seniman muda yang turut meramaikan pementasan sepanjang tahun.”Dalam satu tahun kita telah melakukan 10 kali pementasan, dengan berkeliling DIJ dan mendapatkan tanggapan yang luar biasa
Tentunya kita selaku pelaku kesenian optimistiss karena wayang orang saat ini tidak ha-nya identik dengan anak muda,” kata Agus kemarin (9/11).Upaya Panca Budaya dalam menjaga wayang orang ini memang serius. Terlebih dalam menggan-deng penonton agar tertarik untuk menonton. Sebagai contoh untuk berpromosi paguyuban ini me-manfaatkan kemudahaan media sosial internet.
Cara ini lanjut Agus terbilang efektif karena mampu men-jangkau penonton yang lebih luas. Tetap mengimbangi dengan cara promosi konvensional, per-tunjukan pun mampu menam-pung ragam penonton. Baik itu masyarakat umum, wisatawan maupun akademisi.”Seiring pementasan, upaya pelestarian pun berlanjut dan berjalan. Dengan melakukan pementasan nomaden kita dapat menjaring karakter penonton yang berbeda. Misalnya saat di pendopo kabupaten dan kota maupun pementasan di PKKH UGM,” kata Agus.
Saat melakukan pementasan di UGM pun terlihat antusiasme para mahasiswa. Meski dalam konteks tugas kuliah, rasa ingin tahu para mahasiswa terbilang tinggi. Terbukti dengan mengik-uti proses persiapan hingga akhir pementasan.Agus berharap kedepannya paguyuban Panca Budaya dapat diresmikan dalam bentuk yaya-san dan terdaftar dalam akta notaris. Tujuannya agar peles-tarian kesenian tradisi DIJ ini lebih optimal lagi dan menunjang teknis pewayangan.
“Kita juga berharap ada wujud studi banding dan kerja sama pementasan di luar Kota Jogja-karta. Panca Budaya berdiri di bawah naungan Pemprov DIJ dan Dinas Kebudayaan DIJ, sehingga program-program diperlukan untuk dapat lebih menghidupkan kesenian ini,” harapnya.Pentas penutupan mengangkat lakon Semar Balen di Pendapa Puralaya Kanjengan Wetan, Imo-giri, Bantul, Jumat lalu (7/11). Pergelaran ini sekaligus meru-pakan rangkaian acara Nguras Enceh. Lakon ini, menurut sutra-da pementasan Tukiran, memi-liki kemiripan dengan ritual tahunan.
Wayang orang, lanjutnya, dapat berakulturasi dengan kebuday-aan lokal. Meski tak terwujud secara langsung, dapat dikemas melalui lakon dan jalan cerita. Tentunya ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan kearifan lokal.”Lebih istimewa lagi karena penampilan kali ini melibatkan 50 orang lebih seniman-seniwa-ti wayang orang dari seluruh DIJ. Semangat untuk menjaga tradisi warisan ini akan terus kita lakukan,” tambah Tukiran. (dwi/laz/ong)