Cocok untuk Kawasan yang Minim Air

JETIS – Selama puluhan tahun para petani banyak menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia saat menanam padi. Akibatnya, tingkat kesuburan tanah saat ini pun menurun. “Program revolusi hijau yang digulirkan pemerintahan dulu sangat merusak tanah,” terang Laskar Suronodanu Wisnu pada penyerahan bibit padi jenis MSP (mari sejahterakan petani) di Sindet, Trimulyo, Jetis kemarin (9/11)
Alasannya, pemerintahan di masa lalu lebih menitikberatkan pada hasil pertanian tanpa mem-perhatikan dampak yang ditimbul-kan. Para petani kala itu akhirnya banyak yang menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia.Nah, bibit padi jenis MSP dapat dijadikan sebagai solusi untuk memperbaiki kondisi tanah. Bibit padi ini hanya membutuhkan pu-puk dan obat-obatan organik jika ingin menghasilkan panen melimpah. “Ketika pupuk dan obat-obatan langka petani tidak perlu risau jika menanam padi MSP,” ujarnya.
Selain itu, bibit padi jenis MSP juga tak begitu membutuhkan suplai air cukup banyak. Karena itu, bibit ini cocok ditanam di ka-wasan yang sumber pengairannya minim. Terutama di kawasan tadah hujan. “Ini pilot project di Bantul. Kalau ini sukses akan kita perluas lagi,” terang pendiri Makaryo Bangun Deso Suharsono.Tak hanya bibit padi jenis MSP, para petani nanti juga akan mendapakan pendampingan. Agar hasil panen para petani menuai hasil bagus.
Asngari, seorang petani Sindet mengatakan, pertanian di kawasan Sindet seluas 7 hektare. Sumber perairannya hanya mengandalkan air hujan dan sumur. Selama ini, kata Asngari, petani setempat sering menanam padi jenis IR 64. “Kami akan mencoba bibit baru ini. Per-soalannya sumber air di sini cukup sulit,” tambahnya. (zam/din/ong)