BAHANA/RADAR JOGJA
TEKNOLOGI CANGGIH: Proses produksi beras di TPS Food, Sragen. Di pabrik ini, sentuhan tangan langsung sangat sedikit.

800 Ton Per Hari, Gabah Dibeli Langsung dari Petani

Beras menjadi salah satu makanan utama bagi masyarakat Indonesia. Untuk menghasilkan beras berkualitas, diperlukan waktu yang panjang dalam memprosesnya. Nah, bagaimana PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, Sragen, menghasilkan beras berkualitas dengan teknologi yang canggih?
BAHANA, Sragen
SEBUAH bangunan dengan dominasi warna hijau tampak dari kejauhan di Jalan Grompol-Jambangan, Sepat, Masaran, Sra-gen, Jawa Tengah
Di sekelilingi bangunan, ter-hampar sawah yang telah men-guning. Padi yang telah menguning itu kemudian dipanen untuk sela-njutnya diangkut ke sebuah pabrik. Tepatnya ke TPS Food. Sebuah pabrik yang menghasil-kan berbagai jenis beras. Salah satu beras yang dihasilkan ada tipe beras pulen dengan brand Cap Ayam Jago. “90 persen beras tersebut kami pasarkan di modern trade,” kata Manufacturing Director TPS Food Jo Tjong Seng kepada wartawan dalam rangka Tour de Solo dan Sragen yang diselenggarakan TPS Food (5/11).
Di TPS Food, proses dari gabah menjadi beras menggunakan teknologi mesin yang minim sentuhan tangan manusia. Se-belum dibawa ke pabrik, hasil panen padi diolah terlebih da-hulu dengan menggunakan combain dan treaser. Kemudian, sejumlah truk berukuran sedang membawa gabah-gabah tersebut masuk ke area pabrik. Layaknya sebuah terminal, untuk menu-runkan gabah pun truk-truk tersebut harus antre.Setiap harinya hampir 1.600 ton gabah yang diproses men-jadi beras. Sebelum memasuki tahap pemrosesan, gabah harus terlebih dahulu melalui tahap pengecekan. Langkah ini guna mengetahui kadar air yang ter-dapat dalam setiap butir beras.
Setelah memalui tahap se-leksi, gabah diproses di sebuah ruang satelit. Ruangan tersebut ukuranya hampir seluas setengah lapangan sepak bola. Di tempat ini, gabah-gabah memasuki ta-hap pembersihan dan penge-ringan secara modifikasi, layaknya menggunakan sinar matahari.Melalui sejumlah mesin, gabah-gabah kemudian dipisahkan dari kulitnya. Layaknya sebuah ayakan beras, mesin tersebut dapat memisahkan antara beras dan kulit. Bahkan batu-batu yang terbawa saat panen pun dapat dengan mudah dipisahkan.
Seng memaparkan, di pabrik dengan luas tujuh hektare ter-sebut terdapat 12 silo (penyim-pan gabah) di mana masing-masing silo bisa menam-pung 2.000 ton gabah. Setiap silo dapat menyimpan gabah sampai dengan enam bulan.”Untuk menjaga agar beras tetap higenis, kami meminima-lisasi pemrosesan secara ma-nual. Dari pengeringan, peme-cahan sampai dengan packing sudah tidak bersentuhan dengan tangan manusia lagi,” ungkapnya.
Menurutnya, beras yang ber-kualitas dan higienis sangat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. “Apalagi beras menjadi salah satu bahan makan utama sebagian masyarakat In-donesia,” katanya.Sedangkan untuk mendapatkan kepastian gabah yang dikirim seragam dan baik, pihaknya terlebih dahulu melakukan pe-metaan dan menginventarisasi sawah-sawah yang memiliki tanaman padi dengan varietas yang baik.
Tidak hanya sampai di situ, pe-rusahaan juga melakukan sejum-lah pembinaan terhadap para petani melalui gabungan kelom-pok tani. “Pembinaan meliputi pemilihan varietas unggul, pem-upukan dan pengairan,” jelasnya.Seng mengungkapkan setiap hari pihaknya selalu mendapat-kan suplai beras dari petani. Beras-beras tersebut dibeli se-cara per kilo langsung dari pe-tani dengan harga yang telah disepakati.
“Kami selalu mengimbau supaya beras-beras tersebut langsung kami terima tidak mampir ke mana-mana. Ini untuk menghin-dari harga yang dibeli lebih ren-dah dari pasaran,” katanya.
Setiap harinya, TPS Food men-ghasilkan 800 ton beras yang sebagian besar memenuhi pasar-pasar di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Untuk produk beras Cap Ayam Jago sendiri lebih menyasar masyarakat urban atau perkotaan. Tidak hanya produk beras premium, pabrik tersebut juga menghasilkan berbagai merek yang disesuaikan dengan pangsa pasar. “Sebab kami tidak hanya men-ghasilkan beras utuh. Beras pa-tahan bahkan ada yang berminat,” terangnya.
Sementara itu Profesor Riset Pusat Penelitian dan Peng-embangan Tanaman Pangan Badan Litbang Pertanian, Prof Djoko Said Damardjati menje-laskan, berbagai aspek harus menjadi pertimbangan dalam memilih beras berkualitas. Salah satunya melalui bentuk fisik.Menurutnya, beras berkualitas memiliki warna putih alami, mengkilap, tidak berbau dan bebas dari kotoran. “Dalam hal ini juga termasuk di dalamnya mengenai beras kualitas ber-mutu yang hanya memiliki pa-tahan kurang dari 5 persen beras,” terangnya.
Djoko menerangkan beras ber-kualitas juga memiliki kandun-gan kadar amilosa 23-25 persen, sehingga ketika diolah menjadi nasi akan menghasilkan nasi yang pulen. Beras dengan kandungan kadar amilosa sedang ini banyak tersebar di Pulau Jawa.Selain kadar amilosa, terangnya, untuk pengolahan beras berkua-litas menjadi nasi juga meliputi proses pencucian. “Pencucian beras untuk olahan berteknologi tinggi satu kali saja sudah cukup,” terangnya. (*/laz)