JOGJA – Sejak beroperasi awal 2013, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima berbagai pengaduan dari masyarakat. Data yang dimi-liki OJK mencatat sampai akhir Oktober lalu, OJK menindak lanjuti sebanyak 26 ribu layanan.Direktur Penyidikan OJK Luthfy Zain Fuady menyebut, dari jumlah informasi yang diterima, se banyak 2.772 berupa pengaduan, 3.229 penerimaan informasi, dan 20.203 penyampaian informasi. OJK telah melakukan penanganan terhadap 2.772 pengaduan. “Dari laporan tersebut, langkah pengawasan yang dilakukan berupa teguran maupun sanksi administratif,” papar Fuady, baru-baru ini.
Ia meneruskan, selama ini OJK banyak mendapatkan aduan me-ngenai penawaran investasi. Se-bagian besar penawaran dilaku-kan dengan memanfaatkan sarana website atau media on-line.Lebih lanjut, Fuady mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap investasi yang menawarkan ke-untungan besar yang tidak wajar. Biasanya, penawaran tak di lakukan melalui lembaga penyiaran (TV dan radio). Namun, ditawarkan melalui online.
“Selain itu domisili tempat usaha tidak jelas dan tidak ada bangunan fisik,” paparnya.Masyarakat harus waspada ter-hadap investasi yang sifatnya berantai (member get member). Namun tidak terdapat barang yang menjadi objek investasi. Termasuk yang menawarkan barang, namun harga barang tidak wajar jika di-banding dengan barang sejenis yang dijual di pasar.Dari temuan OJK, penawaran investasi yang memiliki karakteristik tersebut banyak berakhir dengan kerugian masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu mengembang-kan sikap rasional, waspada, dan berhati-hati terhadap tawaran produk investasi yang semakin hari semakin beragam dan cang-gih.
Beberapa produk investasi bodong yang gencar beredar adalah Mav-rodian Mondial Moneybook (MMM), Sama Sama Sejahtera (SSS), Sistem Menuju Sejahtera Nusantara (SMS NUSA), dan Local Wisdom (Loc-wis). Sistem investas berantai tersebut banyak merugikan masyarakat. (bhn/hes/ong)