Gerombolan Anak Pelaku Curanmor

WONOSARI – Komplotan anak-anak tersangka pencurian sejumlah kendaraan bermotor (curanmor) di Gunungkidul akhirnya semuanya sudah ditangkap polisi. Tersangka terakhir yang sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) bahkan diserahkan sendiri oleh orang-tuanya. Karena pertimbangan usia, keempat tersangka tidak ditahan dan sekarang diperbo-lehkan pulang ke rumah masing-masing.
Panit Humas Polres Gunungkidul Ipda Ngadino mengatakan DPO dengan inisial OT (sebelumnya ditulis AT) ini menyerahkan diri ke Polres didampingi keluarga. Dia menyusul tiga rekannya yakni, AJ, 16, AR, 15, dan TR, 15, yang lebih dulu ditangkap. “Namun demikian, mereka tidak ditahan namun diserahkan kepada orang tua untuk pembi-naan lebih lanjut,” kata Ngadino, kemarin (10/11).
Dia menjelaskan anak pelaku kriminal tidak ditahan karena adanya UU Sistem Peradilan Anak Nomor 11/2012 dan karena masih berstatus pelajar. Selain itu, orang tua masing-masing berani mem-berikan jaminan bahwa si anak tidak melarikan diri maupun menghilangkan barang bukti. “Kami juga ada kerja sama dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan) Gunungkidul. Meski tidak ditahan bukan berarti proses hukum di-hentikan. Proses jalan terus namun kita tidak tahan hanya dikenakan wajib lapor karena yang bersangkutan masih sekolah,” ungkapnya.
Ngadino tidak menampik isu yang menyebut bahwa tersangka terakhir yang diserahkan anggota keluarga adalah anak anggota polisi. Namun demikian, pihaknya tidak tahu persis dari Polres mana dan hanya menyebutkan wilayah Jawa Tengah saja. “Tapi Polres mana saya tidak tahu,” tandasnya.Hingga sekarang barang bukti (BB) yang diamankan oleh petugas ada tiga unit kendaraan roda dua. Karena kasus masih dalam penyidikan pemilik kendaraan harus menunggu untuk beberapa waktu. Jika semua sudah beres, pemilik kendaraan dipersilakan mengambil ke Polres Gunungkidul.
Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Suhadi menambahkan meski tersangka tidak ditahan namun mereka dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. “Kami sampaikan, bukan penangguhan penahanan tetapi tidak ditahan karena per-timbangan anak-anak,” kata Suhadi. Di bagian lain, aktivis LSM Rifka Annisa Gunungkidul M Thonthowi mengapresiasi langkah kepolisian karena tidak menahan anak pelaku kriminal. Hanya saja, dia mengingatkan bahwa ke depan pengawasan kepada anak harus lebih ditingkatkan.
“Peran orang tua, lingkungan sekitar dan sekolah menjadi sangat penting dalam tumbuh kembang anak,” kata Thonthowi.Peran pemerintah juga sangat diperlukan. Maka, anggaran-anggaran yang berkaitan dengan program anak ke depan hendaknya diting-katkan. Dengan begitu, antisipasi maupun pencegahan anak ber-perilaku menyimpang bisa dicegah sejak dini. (gun/ila/ong)