DWI AGUS/RADAR JOGJA
TERUS KEMBANGKAN:Kolonel Sus Drs Sudarno di depan Museum AU Dirgantara Mandala, Jogja, kemarin (10/11).

Gandeng Anak Muda, Aktif Beri Pelatihan ke Guru

Museum Angkatan Udara Dirgantara Mandala merupakan museum bersejarah di Jogjakarta. Museum ini menampung puluhan pesawat yang memiliki nilai sejarah. Usaha mengenalkan keluar pun terus dilakukan oleh Kepala Museum Kolonel Sus Drs Sudarno.
DWI AGUS, Sleman
MEMASUKI kawasan Museum Angkatan Udara Dirgantara Mandala, pengunjung akan menemui penjagaan yang ketat. Wajah sangar petugas jaga berseragam biru lang-sung terlihat, begitu mendekati pintu masuk. Tentunya sudah menjadi tugas mereka, karena kawasan ini merupakan bagian dari markas AU Adisucipto Jogjakarta.
Memasuki kompleks dalam suasana asri menyapa. Deretan pohon besar tertata rapi sepanjang jalan. Suasana sejuk ini seakan mendamaikan tubuh atas serangan panasnya matahari siang kemarin (10/11).
Memasuki ruang kepala museum, sapaan ramah terucap dari Kolonel Sus Drs Su-darno.”Monggo Mas ngobrol di dalam ruangan dulu saja. Nanti lanjut berputar-putar mu-seum,” ajaknya.
Pria kelahiran Kulonprogo 20 Mei 1961 ini lalu bercerita panjang lebar tentang kisah-nya. Diawali dengan semangat Museum AU Dirgantara Mandala dalam menyambut Gebyar Museum Jogjakarta 2014. Museum bersejarah ini baru saja menyelenggarakan perhelatan pada Sabtu (8/11) dan Minggu kemarin (9/11).
Menurut bapak dua anak ini, gelaran se-perti ini sangat penting. Program dari Dinas Kebudayaan itu mampu membantu mem-promosikan museum. Terlebih dengan melakukan kunjungan langsung ke museum.Selama dua hari penyelenggaraan, mu-seum ini pun tampil berbeda
Tidak tampil sangar layaknya angkatan bersenjata, tapi dengan kemasan yang segar. Seperti menyelenggarakan kompetisi band dan juga stand up comedy.
“Agar tidak membosankan, kami juga mampu menggandeng anak-anak muda. Kemarin kami juga menghadirkan musisi Indo-nesia seperti Dygta, Caffeine, dan Marvel. Untuk tema kami men-gusung kepahlawanan dengan judul Soul of Patriotism,” katanya.
Dia berharap, upaya menge-nalkan museum kepada gene-rasi muda dapat berjalan lancar. Kolaborasi dengan kemasan dan konsep yang menyenangkan menjadi salah satu kuncinya. Imbasnya, tentu saja pada jum-lah kunjungan dan pengeta-huan ke depan.Pria yang akrab disapa Kolonel Darno ini sedikit mengernyitkan dahi saat membahas kunjungan. Diakuinya, Jogjakarta merupa-kan kota dengan kunjungan study tour tinggi. Tapi sayangnya, kunjungan ini terkesan hanya formalitas.
Misalkan untuk durasi kunjung-an yang terbilang sangat singkat. Padahal untuk memutari museum seluas 8.000 meter persegi ini perlu waktu yang relatif lama. Ini karena jumlah koleksi pesawat yang mencapai puluhan.
“Kami menyayangkan jika kun-jungan sangat sebentar, bahkan pernah ada hanya 30 menit. Pa-dahal museum itu ibarat pus-taka dan tempat belajar. Banyak pengetahuan dan nilai-nilai yang bisa didapatkan dalam kun-jungan,” katanya.
Koleksi pesawat di museum ini terbilang banyak, mencapai 42 unit. Sebanyak 36 unit pesa-wat terletak di dalam gedung, sedangkan enam unit pesawat di halaman depan museum. Belum lagi koleksi foto ataupun video dokumentasi tentang Ang-katan Udara di Indonesia.
Kolonel Darno menjelaskan, semua koleksi pesawat ini sudah sepuh. Mulai pesawat peninggalan Jepang seperti Zero Zen, Haya-busa, Guntai, Cureng, dan Nisi-koreng. Untuk dua nama terakhir ini merupakan pesawat replika.
“Dulu kami punya aslinya, tapi akhirnya diminta Museum Satria Mandala sehingga kami buat re-plikanya. Untuk yang terbaru ada helikopter Super Puma di halaman museum,” katanya.
Pesawat tua tentu perlu pera-watan yang ekstra. Uniknya, museum ini justru tidak memi-liki tenaga khusus. Baik untuk penjagaan maupun perawatan, dilakukan oleh seluruh elemen Angkatan Udara. Mulai dari membersihkan pesawat maupun kawasan museum.
Kolonel Darno mengibaratkan ini dengan purwa karya. Kegia-tan ini merupakan agenda wajib yang digelar setelah apel pagi. Berupa bersih-bersih yang me-libatkan seluruh elemen Ang-katan Udara. Tidak memandang pangkat, karena untuk kebersi-han bersama.
“Tidak ada lagi istilahnya mu-seum itu kotor dan remeng-re-meng. Museum itu harus nyaman, sejuk, dan bersih sehingga enak dipandang. Jika ini berjalan, tentu akan berdampak pada kunjungan,” ungkapnya
Upaya ini memang terlihat dari kawasan museum yang terlihat sangat asri dan nyaman. Tidak sedikit pengunjung memanfaat-kan rindangnya pohon untuk berteduh. Semakin pas mempela-jari deretan pesawat yang terpar-kir di halaman museum.Upaya lain yang dilakukan Ko-lonel Darno dan jajarannya ada-lah aktif berpromosi. Seperti turut dalam kegiatan travel dia-log ke beberapa daerah bekerja sama dengan dinas terkait. Atau ikut dalam serangkaian kegiatan yang diadakan Badan Musya-warah Musea DIJ.
Kecintaannya terhadap Ang-katan Udara dan museum me-mang klop. Usut punya usut, ternyata Kolonel Darno meru-pakan korban wajib militer. Darno muda yang awalnya bercita-cita sebagai dosen seja-rah pun banting setir.Berangkat dari perwira karier, pria ini awalnya hanya lulusan jurusan Sejarah UGM. Jika dinalar, memang berbeda dari konsen-trasi ilmu yang dipelajarainya. Meski terkesan wajib, Kolonel Darno muda pantang mengeluh.
“Tahun 1988 hingga 1989 dengan berangkat ke Semanrang untuk seleksi. Lalu ikut kursus orien-tasi matra sesuai angkatan (AU) di Halim Perdanakusuma. Baru setelah itu ditempatkan dinas sejarah sesuai dengan apa yang dipelajari,” kenangnya.
Jabatan kepala museum sen-diri baru diembannya sejak 9 September lalu. Tapi ini bukan pengalaman pertamanya. Dia pernah menempati jabatan yang sama dari 2009 hingga 2013. Karena ada kebijakan validasi, jabatan dirinya baru bisa kem-bali awal September lalu.
Kepekaan terhadap dinamika masyarakat pun menjadi ke-kuatan lain. Seperti turut meng-gandeng ragam komunitas dalam berbagai kegiatan museum. Hal ini sudah dilakukan olehnya beberapa tahun ini.Hubungan sosial yang baik bertujuan membuka gerbang jarak antara museum dengan masyarakat. Sehingga masyara-kat umum pun dapat melahirkan rasa memiliki museum yang tinggi. Beberapa komunitas se-perti aoeromodeling hingga komunitas Jogjakarta 1945 telah menjadi partnernya.
“Saat karnaval kami turut men-gundang komunitas-komunitas untuk partisipasi. Bahkan teman-teman juga membantu untuk penyediaan miniatur pesawat-pesawat. Itulah mengapa museum itu wajib berkomunikasi tidak hanya ke dalam saja,” ungkapnya.Upaya lain yang dilakukan ada-lah dengan aktif memberikan pelatihan sejarah kepada guru-guru. Kunci ini merupakan awalan untuk mengenal museum Dirgan-tara Mandala lebih dalam. Tujuan-nya agar para guru dapat menge-nalkan museum kepada siswanya.
“Kami hilangkan stigma mu-seum adalah tempat penyimpa-nan benda kuno. Ragam upaya tentunya patut untuk dicoba. Termasuk mengenalkan mu-seum secara aktif keluar,” tan-dasnya. (*/laz/ong)