FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BENCANA DATANG: Rumah milik Muji Irianto yang ada di Kampung Gelangan, Kelurahan Gelangan rusak parah diterjang longsoran tebing yang ada di belakang rumah.
MAGELANG – Pergantian musim ditandai dengan seringnya hujan turun. Biasanya, an-caman bencana tanah longsor seiring datan-gnya hujan deras.Pemkot Magelang mewaspadai dua wilayah. Yakni, Kampung Nambangan dan Jaranan, Kelurahan Rejowinangun Utara, yang ditenga-rai cukup dekat dengan ancaman longsor. Namun, justru kejadian longsor di Kampung Gelangan RT 01/RW 05 Kelurahan Gelangan, Magelang Tengah, Minggu sore (9/11)
Tebing setinggi empat meter longsor dan menimpa rumah milik milik Muji Irianto, 52. Ma-teria longsoran merusak bagian kamar, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan genting. Memang, tak ada korban jiwa dalam ke-jadian tersebut.
“Kejadiannya begitu cepat, se-kitar pukul 16.30. Kebetulan anak saya, Billy Putra Irianto yang ma-sih berumur 4 tahun tengah tidur di kamar sisi barat yang berhada-pan dengan tebing. Sedang saya duduk di teras, sembari melihati tebing yang airnya mengucur deras. Tiba-tiba bruk, tebing itu ambruk dan menimpa rumah saya. Untung anak saya masih bisa saya selamatkan,” ungkap Muji Irianto, kemarin (10/11).Pria yang akrab dipanggil Bo-gel ini mengaku, rumahnya kini tidak bisa ditinggali. Ia mengung-sikan anaknya ke rumah sau-daranya yang tidak jauh dari lokasi bencana. Kerugian ditak-sir sekitar Rp 25 juta.
“Sementara ini, saya bersama anak mengungsi ke tempat sau-dara. Untuk kelanjutannya, saya menyerahkan sepenuhnya per-soalan ini secara kekeluargaan. Apalagi, Pak RT (Aminudin) yang temboknya longsor mau tang-gung jawab,” paparnya.Tembok yang runtuh adalah bagian dari tanah Aminudin, 56, yang dalam tiga bulan terakhir mulai dibuka dan dipondasi serta diberi pagar. Sebelumnya, tanah tersebut berupa tanah pekarang-an yang ditumbuhi banyak pohon. Tapi ia kurang puas. Lalu, ia beru-saha menata tanah menjadi taman pribadi. Alasannya, untuk men-dukung program pemerintah berupa kampung organik.
“Kami dianjurkan di kampung sini sebagai jalur hijau. Memang ini pribadi saya (buat taman), dan kesadaran kalau di beber-apa RW sudah ada kampung organik. Saya berinisiatif mem-buatnya,” ungkap Aminudin.Struktur tanah di kawasan per-kampungan padat penduduk tersebut sangat labil, terlebih bila cuaca ekstrem melanda akhir-akhir ini. Ia mengaku, sebelum-nya tidak ada tanda-tanda akan terjadinya longsor di tanah seluas 438 meter persegi miliknya. “Sebelumnya dibangun taman, saya bangun pagar supaya kokoh. Sempat memang ada penguru-kan tanah, kemungkinan ka-rena belum padat jadi struktur-nya masih lunak dan mudah longsor. Apalagi kalau terjadi hujan deras,” paparnya
Setelah peristiwa itu pun, Ami-nudin bakal segera memper-baiki saluran drainase di sebidang tanah miliknya. “Saya akan tanggung jawab, sampai rumah Pak Irianto nor-mal seperti sebelum terjadi longsor,” janji Aminudin.St Darmono, salah satu warga setempat menyatakan, struktur tanah di Kampung Gelangan memang labil, karena berada dalam derajat kemiringan cukup tinggi. Ia berharap, warga di bawah tebing meningkatkan kewaspadaan. Karena ada be-berapa titik dengan kondisi su-dah retak yang ditengarai ber-potensi terjadi longsor.
“Ada satu titik tepat di depan longsor ini yang harus diwaspa-dai. Kondisi tanahnya sudah retak. Kalau terjadi hujan deras, sangat mungkin terjadi longsor,” ungkap mantan anggota DPRD Kota Magelang ini.Sejumlah personel TNI, Search and Rescue (SAR), dan warga setempat bergotong-royong membersihkan puing-puing rumah dan timbunan material longsor di rumah Muji Irianto. Mereka memberi penyangga dengan bambu agar tidak ter-jadi longsor susulan. Hingga kini, korban juga belum mendapat bantuan dari pemerin-tah setempat, terkait sembako dan kebutuhan lain. (dem/hes/ong)