Beli yang Tidak Laku di Pengepul

JOGJA – Pelan tapi pasti, Pem-kot Jogja terus mencari solusi dalam hal penanganan sampah. Solusi terbaru, Pemkot Jogja me-nyiapkan bank sentral sampah secara mandiri. Bank sentral sampah ini membeli sampah-sampah non-organik yang di-kumpulkan di bank (bak) sampah dan tidak laku dijual ke pengepul.
Kepala Sub Bidang Daur Ulang Sampah Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Faizah mengatakan, bank sentral sam-pah akan mulai beroperasi 2015.”Keberadaan bank sentral sam-pah ini bukan untuk melarang menjual sampah ke pengepul. Tetapi, membeli sampah yang tidak laku. Semisal, kantong kresek atau kaca kan jarang ada yang mau beli. Nah itu nanti menjadi bagiannya bank sentral,” ujar Faizah, kemarin (10/11).
Dalam pengoperasiannya, bank sentral sampah dikelola BLH. Begitu pula dengan kantor dan lokasi penampungannya. “Pegawai berikut lokasi bank sentral sampah ini me-manfaatkan kantor BLH yang be-rada di Nitikan Jogja. Intinya untuk pemberdayaan BLH sekaligus se-bagai penanganan alternatif tentang sampah di kota kita ini,” tandasnya.Dia berharap, kehadiran bank sentral sampah lebih member-dayakan keberadaan bank sam-pah yang sudah ada di Kota Jogja. Saat ini, di Kota Jogja ter-dapat 315 bank sampah yang berada di 315 RW.
“Seiring dengan adanya bank sentral sampah, kami targetkan di seluruh RW (615 RW) akan kami tempatkan bank sampah. Dengan demikian, kelak semua RW bisa mengelola sampah sendiri,” katanya. Dia menambahkan, kebera-daan bank sentral sampah juga diharapkan bisa memacu peran aktif warga. Sebab, selama ini, meski sudah ada 315 bank sam-pah di tingkat RW, belum semua warga ikut serta.
“PR (pekerjaan rumah) terbe-sar kami, bahwa perilaku me-milah sampah belum menjadi budaya masyarakat. Padahal, pengadaan bank sampah, di-maksudkan agar masyarakat bisa memisahkan sampah or-ganik dan non-organik,” katanya.Selanjutnya setelah dipilah, sampah organik nantinya bisa diolah menjadi kompos. Semen-tara sampah non-organik di-kumpulkan, kemudian “ditabung” ke bank sampah.
Menurut dia, konsep bank sampah sama dengan bank umum. Tetapi yang membeda-kan hanya yang ditabung. “Be-danya kalau di bank umum yang ditabung uang, kalau di bank sampah ya sampah, tapi yang non-organik,” jelasnya.
Pendirian bank sampah, jelas Faizah, tidak memerlukan modal dan tempat yang besar. Malah kegiatan pengolahan sampah tersebut bisa mendatangkan uang tambahan. “Beberapa bank sam-pah yang sudah beroperasi, juga banyak yang berinovasi dengan membuat simpan pinjam atau hasil dari penjualan sampah di-gunakan untuk rekreasi,” katanya. BLH Kota Jogja memberi ban-tuan berupa timbangan digital, tas pilah sampah, buku tabung-an bank sampah hingga buku administrasi.
Inisiator bank sampah di Kota Jogja Bambang Suwerda me-nambahkan, keberadaan bank sampah ini sekaligus untuk meng-ubah persepsi dari bak sampah menjadi bank sampah. Sampah akan dipisahkan men-jadi sampah layak kompos, layak kreasi, dan sampah layak jual lewat bank sampah tersebut. “Sehingga yang dikirim ke tampat pembuangan akhir hanya sampah yang layak buang,” terangnya. (pra/jko/ong)