ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
KUMUH: Onggokan sampah menggunung di pinggir Sungai Opak. Sampah-sampah ini adalah kiriman dari kawasan Pantai Depok.

Atasi Persoalan Sampah di Kawasan Pantai Depok

BANTUL – Persoalan sampah di kawasan Pantai Depok ternyata sudah mendapatkan respons Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Bahkan, Disbudpar pernah membahas persoalan ini bersama Komisi B untuk mencari solusinya.Kepala Disbudpar Bantul Bambang Legowo mengakui, volume sampah di kawasan Pantai Depok memang cukup tinggi. Ironisnya, sampah-sampah tersebut selama ini dibuang di Sungai Opak. “Itu kan kurang bagus,” terang BL, sapaan akrabnya kemarin (11/11).
Sebagai solusinya, Disbudpar berinisiatif menangani persoalan sampah di objek wisata kuliner tersebut secara mandiri. Disbudpar berencana membeli truk peng-angkut sampah sendiri. Selain itu, Disbudpar juga akan menyediakan para tenaga yang akan mengoperasikannya. Menurutnya, upaya penanganan sampah secara mandiri ditempuh karena Dinas Pekerjaan Umum (DPU) selama ini sudah kewalahan mengambil sampah se-Bantul, kemudian mengantarnya ke tempat pengelo-laan sampah terpadu (TPST) Piyungan.
Bahkan, sampah di kawasan Pantai Parangtritis yang selama ini dikaryakan DPU terkadang sampai menumpuk. “Kalau Pantai Parangtritis lagi ramai kan macet. Jadi nggak bisa ambil,” ujarnya.
Selain pengadaan truk pengangkut sampah, kata Bambang, Disbdupar juga tengah meng-hitung anggaran untuk operasionalnya. Misalnya, anggaran untuk pembelian solar. Rencananya, pengadaan truk pengangkut sampah tersebut bakal direalisasikan pada tahun depan. “Anggarannya sekitar Rp 300 juta hingga Rp 400 juta,” ungkapnya.
Truk pengangkut sampah ini nantinya akan mengambil sampah di kawasan Pantai Depok, dan Pantai Parangtritis kemudian membuangnya ke TPST Piyungan. Tak tertutup kemungkinan penanganan sampah-sampah di sejumlah objek pariwisata lain pun juga akan di-handle. Pengurus Koperasi Mina Bahari 45 Pantai Depok Sutarlan mengatakan, sampah di kawasan Pantai Depok selama ini dibuang ke sungai Opak. Langkah ini ditempuh sebagai solusi darurat. “Mau dibuang kemana lagi? Mau di-buang ke Piyungan juga tidak ada armadanya. Mau beli juga tidak ada biayanya,” keluhnya.
Dia mengakui pembuangan sampah di Sungai Opak pernah dikeluhkan warga sekitar karena bau tak sedap yang ditimbul-kan. Selain itu, juga mengotori air sungai. Selama ini, para pemilik warung kuliner, serta para pedagang kaki lima di kawasan Pantai Depok patungan membayar tenaga kerja yang membersihkan sampah. “Selain truk, kalau bisa dinas nanti juga menyediakan satu bak sampah besar untuk menampung. Karena bak sampah di sini juga masih kurang,” tambahnya. (zam/din/ong)