Bukan Termasuk Simpanan Berbunga

JOGJA – Bank Indonesia (BI) tengah meng-galakkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dengan menghadirkan produk e-money atau uang elektorik. Meski me-rupakan salah satu produk perbankan, BI menegaskan keberadaan e-money tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) seperti layaknya tabungan, depo-sito dan produk perbankan lainnya.Manajer Divisi Perizinan dan Informasi Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Pusat Prabu Dewanto menyatakan dana e-money bukanlah simpanan yang ber-bunga. Deposit uangnya juga tidak terlalu besar, karena rata-rata produk e-money menyimpan uang sebesar Rp 1 juta.
“Keberadaan e-money ini sebatas alat pembayaran. Nominal untuk melakukan top-up juga masih dibatasi,” jelas Prabu belum lama ini (10/11).Prabu mengungkapkan keberadaan e-money sebagai solusi meminimalisasi penggunaan uang cash yang sangat besar. Dia menjelaskan selain praktis, penggunaan e-money juga menghemat penggunaan uang kertas dan uang logam yang biaya pencetakannya cukup besar. Apalagi saat ini telah banyak corporate yang menyediakan layanan penggunaan e-money seperti toko ritel, bus trans, restoran dan lain-lain.
Prabu mengatakan pihaknya terus mendo-rong bank umum untuk terus membantu sosialisasi e-money. Termasuk dengan melakukan penambahan sarana pendukung seperti mesin ATM dan mesin EDC. “Bila penggunaan e-money di masyarakat se-makin meningkat, maka sarananya harus ditingkatkan pula,” jelasnya.Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santoso menjelaskan selain di Jakarta penggunaan e-money di DIJ berkembang cukup pesat. Sejumlah perusahaan perbankan dan non-perbankan kini meluncurkan produk-produk e-money sebagai alat transaksi pembayaran melalui kerja sama dengan sejumlah pihak. “E-money ini untuk efisiensi dalam pem-bayaran. Kami berharap penggunaan non-tunai meningkat di Jogjakarta. Saat ini persentasenya masih 70 persen tunai,” kata Arief.
Manfaat lain dengan penggunaan e-money adalah keamanan yang lebih ter-jamin sebab masyarakat tidak perlu mam-bawa uang berlebih di dalam saku. Dengan menggunakan produk berupa kartu, ma-syarakat sudah bisa melakukan transaksi.Di Jogjakarta sendiri, jelas Arief, peng-gunaan e-money sudah mulai diterapkan dalam pembayaran Trans Jogja yang di-keluarkan oleh salah satu bank. Selain itu, sejumlah toko jejaring dan super market sudah mulai menerapkan pembayaran dengan e-money.
“Ada yang sudah bekerjasama dengan sekolah serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ bahwa e-money bisa digunakan untuk pembayaran biaya se-kolah dan belanja di kantin,” jelasnya.Arief memaparkan ada dua jenis e-money yakni yang teregistrasi maupun yang tidak teregistrasi. Untuk yang tidak melalui pendaftaran biasanya maksimal pengisian Rp 1 juta. Sedangkan yang teregistrasi maksimal Rp 5 juta.
“Untuk yang nonregistrasi bila kartu hi-lang maka saldo yang di dalam akan ikut hilang namun yang teregistrasi masih bisa dilihat ke lembaga yang menerbitkan,” jelasnya.Saat disinggung mengenai jumlah peng-guna e-money di DIJ, Arief mengaku tidak mengetahui jumlah pastinya. “Kami belum memiliki data lokal, namun untuk skala nasional sudah mencapai 36 juta produk dengan transaksi mencapai Rp 2,9 trilun pada 2013,” jelasnya. (bhn/ila/ong)