GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TOLAK BBM NAIK: Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Sekolah Bersama menggelar aksi menolak rencana kenaikan harga BBM di pertigaan UIN, Jogja, kemarin.

Rencana Kenaikan BBM Subsidi, Daerah Tunggu Keputusan Pusat

JOGJA – Rencana pemerintahan Jokowi-JK menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, belum disosialisasikan hingga ke pemerintah daerah. Pemda pun masih menung-gu keputusan resmi dari pusat. Hingga saat ini juga belum ada persiapan yang dilakukan ter-kait rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. “Tidak ada, hingga sekarang tidak ada per-siapan apa pun. Kami juga masih menunggu koordinasi dengan provinsi dan Pertamina,” ujar Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja Suyana kemarin (11/10). Meski demikian, Suyana mengaku tetap memantau distribusi dan penjualan BBM bersubsidi.
Menurut dia, untuk stok BBM bersubsidi di wilayah Kota Jogja sendiri hanya cukup hingga 17 Desember 2014. Hal itu berda-sarkan hasil koordinasi dengan Pertamina. Dari pantauan, jelas Suyana, hingga saat ini proses distribusi dan penjualan BBM bersubsidi masih lancar. “Selama ini juga masih normal, seperti biasanya,” tuturnya
Terpisah, Assistant Manager External Relations Pertamina Jateng dan DIJ Robert MV Dumatu-bun memastikan, stok BBM dari Pertamina aman dan cukup. Pertamina akan menyediakan stok BBM bersubsidi sesuai penugasan pemerintah. Jika BBM bersubsidi di SPBU sudah habis, Per-tamina menyediakan BBM nonsubsidi. “Peng-iriman BBM bersubsidi ke SPBU normal se-perti biasanya, tetap kami kontrol,” ujar Roberth.
Terkait wacana kenaikan harga BBM bersub-sidi, diakuinya juga membuat konsumsi BBM bersubsidi di wilayah Jateng dan DIJ sedikit meningkat. Dia mencontohkan, untuk kon-sumsi BBM bersubsidi jenis premium. Jika sebelumnya konsumsi per hari sekitar 8.000 kilo liter, kini meningkat menjadi 9.000 kilo liter. Begitu pula untuk solar, dari rata-rata 5.000 kilo liter per hari menjadi 6.000 kilo liter.
Roberth juga berharap ada perubahan pola konsumsi masyarakat, dengan beralih ke BBM nonsubsidi. Untuk wilayah Jateng dan DIJ, hingga Oktober lalu realisasi kon-sumsi BBM bersubsidi sudah mencapai sekitar 85 hingga 90 persen. Meskipun begitu Roberth meminta masy-arakat tidak perlu panik, termasuk melaku-kan pembelian BBM bersubsidi secara ber-lebihan. “Prinsipnya BBM bersubsidi tetap disediakan. Kalaupun BBM bersubsidi tidak tersedia, kami sediakan yang nonsubsidi,” ungkapnya. (pra/laz/ong)