HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
PENDONGENG CILIK: Raden Muhammad Fajar Dwi Ariantio bersama Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti.

Sering Menang Lomba, Paling Suka Sosok Bima

Tak bisa dipungkiri kini anak-anak mengalami krisis kepahlawanan lokal. Mereka lebih akrab dengan superhero dari manca. Seperti batman atau superman. Tapi bagi Raden Muhammad Fajar Dwi Ariantio, sosok pahlawan di pewayangan lebih heroik. Ini pula yang mengantarkannya menjadi pemenang dalam berbagai ajang lomba dongeng.
HERI SUSANTO, Jogja
SAAT ini sudah banyak anak-anak yang sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan dengan usia yang masih tergolong cilik, tak sedikit yang bisa mengumpulkan pundi-pundi uang.Salah satunya Muham-mad Fajar Dwi Ariantio. Di usianya yang baru 11 tahun, Fajar sudah bisa membeli hand-phone android dengan uangnya sendiri.
Tapi, uang Fajar ini bukan hasil dari be-kerja. Fajar mendapatkannya dari hadiah berbagai lomba dongeng yang ia ikuti. Fajar memang berhasil menyabet berbagai juara untuk lomba dongeng. Salah satunya ada-lah lomba dongeng cerita pewayangan di Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kota Jogja belum lama ini. Fajar berhasil menjadi pemenang kedua.
Untuk urusan mendongeng, Fajar memang melebihi kemampuan seperti orang de-wasa. Dia bisa berganti-ganti suara sesuai karakter yang ia ceritakan. Seperti kala meng-hipnotis di hadapan peserta talk show dan dialog interaktif Arspuda Kota Jogja, Senin malam (10/11).”Untuk pengenalan karakter, nanya ke Museum Wayang,” tutur Fajar kepada Radar Jogja yang menemuinya usai mendongeng di Arpusda.Ia mengaku mengenal karakter-karakter tokoh pewayangan ini dari menyaksikan sinetron Mahabharata. “Awalnya di sinetron. Terus baca beberapa buku,” imbuhnya.
Dari semua tokoh itu, dia mengaku paling senang dengan sosok Bima. Werkudoro di ce rita wayang Jawa ini, bagi Fajar, adalah so sok yang berani. Bima sangat berani un-tuk melawan kejahatan. “Karena kuat dan berani,” ujarnya. Siswa kelas VI SDN Gedongkiwo, Jogja, ini menuturkan, dengan mempelajari do-ngeng wayang, ia bisa mengetahui kebaikan dan kejahatan
Kebaikan, digambarkan dari dongeng tersebut identik dengan Pandawa. “Emoh, kalau jahat itu menjadi Kurawa,” tandasnya. Keberhasilan Fajar menjadi pendongeng cilik ini, menurut Diah Saptarini Mayasari, sang ibu, tak lepas dari kebiasaannya sejak kecil. Setiap akan tidur, dia selalu meminta Fajar berlomba dengan adiknya siapa yang mau mendongeng. “Hadiahnya bobok di tengah saya kelonin,” terang Diah yang asli Jawa Barat ini.
Kemudian, kebiasaan men-dongeng ini lama-kelamaan mulai menunjukkan hasil. Fajar bisa memerankan suara karak-ter yang ia ceritakan. “Saya minta cerita di hadapan teman-temannya di Sanggar Pelangi Ilmu yang saya dirikan di rumah,” aku Diah.Kemampuan Fajar ini menuai apresiasi dari Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti. Ia melihat dong-eng dengan cerita lokal ini harus dilestarikan. Apalagi dengan krisis kepahlawanan yang ter-jadi akhir-akhir ini.
“Yang ada di layar televisi se-karang ini, artis ketangkap nar-koba. Pejabat korupsi, masyara-kat krisis kepahlawanan,” tandas HS, sapaan akrabnya.
Padahal, saat ini, masyarakat sangat membutuhkan sosok kepahlawanan. Apalagi, anak-anak, yang terus digempur dengan budaya impor yang belum ten-tu mampu membentuk karakter anak. “Cerita-cerita kepahlawa-nan lokal ini harus bisa men-jadi virus di semua lini kehidu-pan,” pinta HS. (*/laz/ong)