AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
Wahidul Anam
JOGJA – Di kalangan umat Islam, hadis dikatakan sahih bila periwayatnya menyandang predikat adil. Selama ini, kajian mengenai para periwayat hadis mengundang perdebatan panjang yakni kaidah yang menyatakan “kull al-sahabah hum udul” (setiap sahabat Nabi/Rosul adil). Kaidah ini telah mengakibatkan Hadis Nabi yang diriwayatkan para sahabat Nabi tidak pernah diteliti, dikritisi dan dianggap sudah ‘adalah’. Kaidah inilah yang membuat Wahidul Anam, dosen STAIN Kediri terdorong untuk melakukan penelitian tentang Sahabat Nabi sebagai periwayat hadis. Riset putra kelahiran Blitar berjudul Adalah Al-Sahabah dalam Studi Hadis (Kemun-culan, Pelembagaan dan Pembong-karan) dipresentasikan untuk mem-peroleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga kemarin (11/11).
Di depan dewan pengjuji yang diketuai Prof Dr Nizar Ali, Anam mengatakan, hasil risetnya menunjuk-kan kaidah bahwa seluruh sahabat Nabi Muhammad SAW adil bukanlah fakta sejarah melainkan doktrin yang dibuatgenerasi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dari kaidah ini kemudian meng-ungkap era kemunculan kaidah, pemikiran kaidah, dan pembong-karan kaidah. Era kemunculan kaidah bahwa semua sahabat adil paling tidak dipengaruhi oleh dua hal yaitu perkembangan pemiki-ran keagamaan, politik, dan per-kembangan aliran keagamaan.
“Kaum Mu’tazilah, Syi’ah, dan Khawarij tidak sepakat dengan kaidah ini. Tetapi kaum Ahl al-Sunnah mempunyai pandangan yang berbeda. Sahabat sebagai periwayat pertama dan orang yang langsung berhubungan dengan Nabi sangat penting untuk diper-tahankan otoritasnya oleh Ahl al-Hadith. Maka tidak menghe-rankan, Ahl al-Hadith yang ke-mudian menjadi Ahlu Sunnah wal Jama’ah mempertahankan otori-tas sahabat sebagai seorang yang tidak boleh dikritik,” kata Anam.
Di sisi lain, munculnya pemikiran pelembagaan kaidah adalah al-sahabah tidak terlepas dari per-kembangan kaum Sunni yang kemudian menjadi Ahl al-Sunnah dan ahli hadis belakangan. Pe-mikiran kelembagaan ini juga berkembang seiring perkembangan ilmu mustalah al-hadith. Pema-tangan pelembagaan kaidah ada-lah al-sahabah paling tidak dapat dilihat dari kitab-kitab mustalah al-hadith yang muncul mulai era Ramahurmuziy sampai sekarang. “Di mana mereka menganggap bahwa sahabat adil secara keseluru-han,” jelasnya.
Sedangkan pembongkaran kaidah adalah al-sahabah seti-daknya telah dilakukan oleh kaum Syi’ah dan para pemikir Islam modern yang dipelopori Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyah. Pendekatan teologis-normatif dan pendekatan sejarah mereka gunakan untuk membongkar kaidah ini. Ada dua keyakinan yang digunakan kaum Syi’ah dalam membongkar kaidah ini yaitu imamah dan ‘ismah. Dengan imamah, kaum Syi’ah meyakini, kepemimpinan Nabi Muhammad diwariskan kepada para imam Syi’ah bukan kepada para sahabat. Para sahabat yang menggantikan kedudukan Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam dianggap telah me-rampas jabatan yang seharusnya dipegang oleh Ahl al-Bait.
Sedangkan kaidah ‘Ismah, kaum Syi’ah berkeyakinan bahwa Ahl al-Bait yang mereka yakini sebagai pemim-pin yang sah setelah Nabi Muhammad dianggap terbebas dari dosa dan maksiat. Kedudukan Ahl al-Bait da-lam pandangan Syi’ah ini sama dengan kedudukan sahabat dalam pandangan kaum Sunni. (mar/din/ong)