GUNAWAN/RADAR JOGJA
RAMPUNG: Unsur pimpinan mengepalkan tangan bersama sebagai pertanda polemik alkap dewan telah berakhir di gedung DPRD Gunungkidul, kemarin (12/11).

Segera Bahas APBDP 2014

WONOSARI – Setelah berpole-mik sekian lama, akhirnya pem-bentukan alat kelengkapan (alkap) dewan DPRD Gunungkidul me-nemukan titik temu. Dalam sidang paripurna yang digelar kemarin (12/11), secara umum berjalan lancar dan berlangsung dalam tempo singkat. “Saya bersyukur, akhirnya alkap bisa dibentuk. Selanjutnya, kami harus bekerja secara maraton untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena masalah ini. Saatnya bekerja un-tuk rakyat,” kata Ketua DPRD Gunungkidul Suharno usai me-mimpin rapat paripurna.
Dia tidak menampik, penyebab molornya pembentukan alkap lebih dikarenakan komunikasi yang dijalin belum berjalan mulus. Namun, setelah jalinan komu-nikasi diperbaiki sejumlah batu rintangan bisa dilalui. Harapan-nya bisa langsung bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.
“Usai rapat, saya langsung meng-instruksikan ke anggota Badan Musyawarah (Bamus) untuk meng-gelar rapat. Kami harus langsung bekerja, sebab 28 November ini menjadi batas waktu terakhir untuk menetapkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2015,” terangnya.Sementara itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Demas Kursiswanto mengaku menerima dan men-dukung penuh seluruh hasil rapat pembentukan alkap. Meski diakui target kursi tidak tercapai, namun perolehan dua kursi merupakan sesuatu hal yang patut disyukuri bersama.
“Dinamika yang ada membu-tuhkan proses yang sangat panjang dan menguras pikiran. Meski demikian, hasil tersebut kami dapat menerimanya. Karena apa-bila masing-masing tetap ngotot pada pendiriannya maka rakyat jadi korban,” kata Demas.Menurut Demas dengan terben-tuknya alkap, seluruh anggota dewan harus bersatu dan langs-ung bekerja untuk kepentingan rakyat. Bukan saatnya lagi me-mikirkan berasal dari kubu atau-pun koalisi, karena yang ada saat ini adalah untuk menyelesaikan tertundanya pekerjaan.
“Paling dekat kita harus menye-lesaikan APBD Perubahan (APBDP) 2014 dan APBD 2015. Mau tidak mau kita harus segera menyele-saikan pekerjaan itu,” ujarnya.Seperti diketahui, hasil pari-purna pimpinan alkap dikuasai dari partai Koalisi Merah Putih (KMP). Sebab, PDI Perjuangan sebagai pemenangan pemilihan legislatif hanya mendapatkan dua kursi pimpinan, yakni Ketua Ko-misi B dan Ketua Badan Kehor-matan.
Di bagian lain, Sekretaris PDI Perjuangan Wahyu Ade Pra-dana Putra terlihat kesal di tengah pembacaan hasil putusan pem-bentukan alkap, lalu keluar ru-angan. Pada saat itu pihaknya juga sempat bersuara dengan nada keras “rapat tidak mutu ini”. Bahkan sempat terdengar bunyi benturan dari pintu ruang lobi DPRD. Entah itu disengaja atau tidak, kejadian tersebut bersamaan dengan keluarnya Ade dari ruang rapat.
“Ra mutu (tidak bermutu), ma-sak anggota dibungkam tidak boleh interupsi. Ini kayak rapat anak TK saja,” keluh Ade ketika dikonfirmasi.Dia menilai, rapat tidak sejalan dengan aturan Tatib Pasal 50 Ayat 9, di mana ketua, wakil ketua, sekretaris komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi secara mu-syawarah mufakat. Kemudian, hasil tersebut dilaporkan dalam rapat paripurna.
“Namun mekanisme itu belum terlaksana. Pemilihan pimpinan komisi urung dilakukan. Tiba-tiba pimpinan rapat sudah men-gumumkan susunan pimpinan komisi. Kalau berdasarkan aturan, ini jelas tidak sah karena sudah melanggar aturan,” tegasnya.
Menurutnya paripurna sekarang merupakan lanjutan rapat p aripurna pada 3 November lalu. Berdasarkan hasil rapat konsultasi pimpinan fraksi dengan pimpinan dewan tertanggal 31 Oktober telah memutuskan beberapa kesepakatan. Namun, hasil rapat yang disahkan kemarin tidak sesuai dengan kesepakatan. “Saya selaku sekeretaris fraksi terus mengikuti rapat. Setahu saya, hasilnya bukan seperti itu,” sesalnya. (gun/ila/ong)