DWI AGUS/RADAR JOGJA
ANGKAT TEMA RATU ADIL: Dari kiri, Laily Prihatiningtyas, Yoke Darmawan dan Moedji Soetrisno saat memberikan keterangan soal BWCF di Hyatt Regency, kemarin.

BWCF Libatkan 250 Penulis Sastra dan Sejarah

SLEMAN – Perhelatan Borobudur Writ-ter and Cultural Festival (BWCF) yang ketiga kembali digelar. Acara yang dilaks-anakan 12-15 November ini melibatkan sekitar 250 penulis sastra dan sejarah nu-santara. Rangkaian acara digelar di kawa-san Candi Borobudur dan Jogjakarta.Direktur festival Yoke Darmawan mengung-kapkan, tahun ini mengangkat tema Ratu Adil: Kuasa dan Pemberontakan di Nusan-tara. Tema ini diangkat untuk melihat pe-maknaan ratu adil menurut persepsi penulis.”Ragam kegiatan ini mulai dari seminar tentang pemaknaan ratu adil, ada pem-bacaan karya sastra hingga pameran ka-rya sketsa. Masih Ada juga seni pertunju-kan mulai musik, tari hingga pemutaran film,” kata Yoke di Bogey’s Teras Hyatt Regency Jogja, kemarin (12/11).
Beberapa pembicara akan hadir dalam acara yang digelar selama tiga hari (13-15/11) seperti Daud Aris Tanudirjo, Peter B.R. Carey, A. Setyo Wibowo dan pembi-cara lainnya. Yoke menjelaskan setiap pembicara akan mengangkat pemaknaan sosial tentang ratu adil.Dipilihnya Candi Borobudur juga sen-jata lain dalam membongkar makna Ratu Adil. Pemaknaan Borobudur secara luas dan mendalam merupakan kewaji-ban. Ini diungkapkan Prof. Dr. Mudji Soetrisno dalam ramah tamah kemarin.
Menurutnya, nilai dari sebuah Candi Borobudur tidak berhenti pada bangunan susunan batu. Di balik semua ini terdapat sebuah pemikiran yang luas untuk di-gali. Tentu saja dengan melihat melalui lintas perspektif.Dukungan juga disampaikan oleh Di-rektur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Laily Prihatiningtyas.Menurut Tyas, BWCF ini merupakan kegiatan yang sangat positif. Dengan me-nulis maka terjadi diskusi yang menam-bah khasanah keilmuan. (dwi/laz/ong)