Dewan Bentuk Tim Khusus

JOGJA – Sebagai tanda keprihatinan ter-hadap kenakalan remaja yang muncul akhir-akhir ini Jogjakarta, DPRD DIJ mewacana-kan membentuk tim khusus gabungan dari berbagai instansi untuk menangani masalah tersebut. Rencana pembentukan tim khusus dan teknisnya, diserahkan ke eksekutif. Dalam hal ini, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah-raga (Disdikpora), dan Kantor Kesatuan, Bangsa, dan Perlindungan Masyarakat (Kes-banglinmas) DIJ. Ditargetkan tim khusus ini sudah bisa terbentuk pada tahun depan (2015).
“Konsekuensi dari pembentukan tim ini adalah anggaran. Dan kami siap mendukung untuk hal itu,” kata Ketua DPRD DIJ Yoeke Indra Agung Laksana saat memimpin sara-sehan “kekerasan remaja” di kantor DPRD DIJ, kemarin (12/11).
Usulan pembentukan tim khusus ini mun-cul dari anggota DPRD DIJ Huda Tri Yudi-ana. Ia merasakan, kenakalan remaja khu-susnya pelajar, sudah sangat mengkhawa-tirkan. “Kalau narkoba ada BNN (Badan Nasional Narkotika), nah untuk kenakalan remaja bisa dibentuk seperti itu (badan khusus),” kata politikus dari PKS ini.Nantinya tim khusus ini bisa merupakan gabungan dari berbagai instansi. Mulai dari kalangan pendidik, kepolisian, dewan, dan elemen yang lain. “Kenakalan remaja ini men-jadi tanggung jawab semua orang. Harus ditangani bersama-sama,” tegas Huda, di hadapan para kepala sekolah se-Kota Jogja.
Wakil rakyat dari Partai Gerindra Anton Prabu Semendawai menambahkan, pem-bentukan tim khusus ini segera direalisasi-kan. Tugas tim, bisa meluas sampai mela-kukan kajian akan adanya permasalahan kenakalan remaja. “Remaja yang kumpul bersepeda hari Jumat (Jumat Last Friday Ride) itu jumlah-nya seabrek. Tapi, mereka tetap bisa untuk berkumpul tanpa melakukan kekerasan,” pesan Anton.
Dari JLFR itu, sambung Anton, bisa di-kaji, bahwa anak-anak muda perlu untuk disalurkan ruang ekspresinya. Jika ekspre-si anak muda ini bisa tersalurkan ke hal-hal yang positif, kenakalan remaja akan berkurang. “Tapi ini perlu kajian khusus. Perlu dikaji lebih mendalam,” pinta Anton.
Dalam sarasehan ini juga muncul kena-kalan remaja banyak dipengaruhi dari even turnamen futsal. Turnamen yang bertujuan membranding salah satu produk itu, bagi sekolah malah seperti buah si-malakama. “Kebanggaan mendukung sekolahnya, tapi kebablasan yang berujung aksi saling pukul,” sesal Kepala Disdik-pora DIJ Baskara Aji.
Aji menegaskan, pihaknya bisa saja mengelu-arkan surat edaran larangan bagi sekolah untuk tak mengikuti even tersebut. Ini, jika memang even tersebut hanya bertujuan untuk membranding produk, dan tanpa memperhatikan dampak, adanya tawuran pelajar antarsekolah. (eri/jko/ong)