Imbau Masyarakat Waspadai Penyakit Demam Berdarah

BANTUL – Memasuki musim penghujan seperti saat ini, se-jumlah penyakit ditengarai bak-al muncul. Di antaranya penyakit demam berdarah (DBD) dan lep-tospirosis. Pemicunya karena populasi nyamuk yang menjadi penyebab DBD dipastikan meningkat. Selain itu, pada musim hujan tikus juga merajalela, bahkan banyak yang keluar masuk rumah.
Karena itu, Kepala Dinas Kese-hatan (Dinkes) Bantul Maya Sintowati mengimbau warga agar kembali menggiatkan program jumantik (juru pemantau jentik) mandiri keluarga. “Tujuannya agar bisa memantau per-kembangan jentik-jentik nyamuk di sekitar rumah,” terang Maya saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (12/11).
Nah, jika di setiap rumah terda-pat pemantau jentik-jentik nyamuk diperkirakan penyakit DBD dapat ditekan. Di samping itu, warga juga diimbau meminimalisasi berbagai wadah yang dapat me-nampung air. Sebab, kubangan air dapat menjadi pemicu ber-kembangnya jentik-jentik nyamuk.
Maya menyebutkan, per 11 No-vember jumlah penderita DBD pada tahun ini 501 orang. Un-tungnya, tidak ada penderita DPD yang meninggal dunia. “Untuk leptospirosis aman terkendali pada tahun ini,” ujarnya.Meskipun begitu, memasuki musim penghujan warga juga harus meningkatkan kewaspa-daan. Itu karena sampah basah di dalam rumah dapat mengun-dang tikus untuk mendekat. Maya juga mengimbau agar warga me-letakkan tempat sampah di luar rumah. “Sampah-sampah basah sebaiknya ditaruh di luar rumah,” tegasnya.
Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinkes Pramu-di menambahkan, dibanding tahun lalu jumlah penderita DBD mengalami penurunan cukup signifikan. Sepanjang tahun 2013 penderita DBD sebanyak 1.203 orang. “Yang meninggal delapan orang,” ungkapnya.Di kabupaten Bantul, ada se-jumlah kecamatan yang meru-pakan endemis DPD. Di antaranya Kecamatan Banguntapan, Sewon, Piyungan, dan Kasihan. Lalu, bagaimana dengan wilayah en-demis leptospirosis? Pramudi menguraikan, kecamatan endemis leptospirosis jauh lebih banyak dibanding endemis DBD.
Misalnya, Kecamatan Sranda-kan, Pundong, Jetis, Sedayu, Sewon, Pandak, dan Bantul. “Jumlah penderita leptospirosis pada tahun lalu dengan tahun ini (per 11 Nopember) sama. Ada 74 penderita,” sebutnya.Hanya saja, penderita leptospi-rosis yang meninggal pada tahun ini sebanyak enam orang. Semen-tara tahun lalu tidak ada pende-rita yang meninggal.
Pramudi menengarai adanya penderita leptospirosis yang me-ninggal karena warga belum pa-ham gejalanya, dan mengang-gapnya sepele. Akibatnya, pem-berian penanganan medis pun terlambat. Sebab, gejala pende-rita leptospirosis memang seder-hana. Yaitu demam disertai nyeri betis. “Padahal yang diserang penyakit ini berikutnya adalah ginjal,” bebernya.
Mengenai pencegahannya, Pramudi memberikan kiat se-derhana. Yaitu mencuci tangan dengan sabun. Sebab, kuman leptospira akan mati jika ter-kena sabun. (zam/din/ong)