GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SIDANG PERDANA: Florence Sihombing saat duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negeri (PN) Jogja, kemarin (12/11). Flo dijerat pasal berlapis dan terancam hukuman enam tahun penjara.

Didakwa Pasal Berlapis, Tak Didampingi Pengacara

JOGJA – Tersangka kasus penghinaan me-lalui akun media sosial Path, Florence Sihom-bing, kemarin (12/11) menjalani sidang per-dana di Pengadilan Negeri (PN) Jogja. Maha-siswa Magister Kenotariatan UGM itu teran-cam hukuman enam tahun penjara. Ancaman kurungan ini karena Flo, sapaan akrabnya, dinilai melanggar pasal berlapis
Yaitu Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 ayat 1 dan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Tran-saksi Elektronik (UU ITE). Jaksa Penuntut Umum (JPU) RR Rahayu menilai, Flo dengan sengaja melontarkan pernya-taan bernada menghina dan berbau SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) dalam akun Path pribadinya, Agustus 2014. Isi statusnya, antara lain, Jogja Miskin, Tolol dan Tak Berbudaya
“Komentar terdakwa di akun Path telah menghina warga Jogja dan kultur budaya Jawa,” kata Rahayu saat membacakan surat dakwaan dalam persi-dangan yang dipimpin Hakim Ketua Bambang Sunanto SH.
Menurut JPU, umpatan Flo tersebut menimbulkaan reaksi negatif dari masyarakat dan ne-tizen yang berujung adanya pelaporan ke Polda DIJ. Kicauan Flo sendiri berawal saat ia tidak mau mengantre untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) je-nis Pertamax di SPBU Lempuy-angan, Jogja. Padahal, saat itu terjadi antrean panjang karena sedang terjadi kelangkaan BBM
Pulang dari SPBU, Flo yang ting-gal di rumah kosnya daerah De-mangan, Jogja, langsung menulis status di akun Path melalui smart-phone yang berisi umpatan atas rasa kekecewaannya saat mengan-tre mengisi BBM tersebut.
Menanggapi dakwaan JPU ini, mahasiswa asal Sumatera Utara ini mengatakan akan mengajukan nota eksepsi atau pembelaan. Ia meminta penundaan persidangan dalam waktu dua pekan lagi. “Yang Mulia, saya minta waktu dua pe-kan untuk mencari pendam-pingan pengacara dan menyusun eksepsi,” terang Flo.
Dalam persidangan yang me-narik perhatian masyarakat dan media, permintaan Flo ini pun ditolak majelis hakim. Majelis hakim bersedia memberi tenggat waktu sepekan untuk menyusun eksepsi dan mencari pengacara. Setelah ada kesepakatan antara majelis hakim, JPU, dan Flo, sidang diputuskan ditunda dan dilanjut-kan pada Rabu (19/11) pekan depan dengan agenda pemba-caan nota eksepsi.
Dalam persidangan, majelis hakim sempat mengingatkan Flo agar tidak menyalahgunakan kelonggaran karena tidak ditahan. Misalnya untuk kegiatan nega-tive, termasuk berupaya melari-kan diri, mengulangi perbuatan, dan tidak kooperatif mengikuti agenda persidangan selanjutnya.
“Saudara harus tetap koope-ratif. Pada sidang lanjutan harus hadir. Jangan disalahgunakan, nanti ada konsekuensi yuridis-nya,” ujar hakim Bambang Su-nanto mengingatkan.
Kepada wartawan, Flo mengeluh mengenai nasib yang menimpa-nya. Pusat Konsultasi dan Ban-tuan Hukum (PKBH) UGM yang sempat mendampingi saat proses penyidikan, mengundurkan diri dari penasihat hukumnya. “Tapi tadi ada orang UGM dan Fakultas Hukum memberi semangat untuk menjalani sidang hari ini,” ungkap Flo. (mar/laz/ong)