GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
HARUS FUN: Suasana di salah satu ruangan kantor Gameloft di Pakuncen, Wirobrajan.

Bebaskan Pakaian Karyawan, Celana Pendek hingga Sarungan

Dalam tiga hari terakhir, perusahaan pembuat game, Gameloft, menjadi topik pembicaraan hangat, terutama di media sosial. Hal itu bukan mengenai game baru yang dikeluarkan, tapi terkait upaya pihak kepolisian dalam memberantas judi online yang salah sasaran dengan menggerebek ke studio Gameloft.
HERU PRATOMO, Jogja
POLICE LINE berwarna kuning tampak memenuhi salah satu pintu masuk karyawan di studio Gameloft, Jalan HOS Tjokroami-noto, Jogja. Tidak hanya satu, beberapa garis polisi memenuhi pintu masuk dari panel kaca itu. Meskipun begitu, police line terse-but bukan asli berasal dari kepolisian. Po-lice line tersebut hanya gambar yang ditem-pelkan dan sebagai peringatan bahwa yang bukan karyawan Gameloft tidak bisa mengak-ses masuk ke studio pengembang game itu.
Kantin di studio Gameloft juga dibuat se-perti taman lalu lintas, lengkap dengan gambar marka jalan dan tiruan rambu-rambu lalu lintas. Kreasi-kreasi kreatif me-mang terlihat sangat kental di Gameloft. Penampakan luar gedung pun jauh dari kesan formal khas perkantoran.
“Memang sengaja kami konsep seperti itu, karena industri kreatif dalam bekerja harus merasa fun,” jelas Studio Manager Gameloft Indonesia Andrei Vladimir Lascu kemarin (12/11). Kesan santai pun terlihat dari penampilan para karyawannya
Sekitar 300 karyawan yang be-kerja di studio Gameloft di dae-rah Pakuncen, Wirobrajan, ini terbiasa berangkat kerja hanya dengan mengenakan kaos, celana pendek atau memakai sandal jepit. Bahkan ketika bekerja mem-buat game, ada karyawan yang menggunakan sarung untuk me-nangkal rasa dingin.
Andrei menerangkan, mayori-tas karyawan Gameloft merupa-kan anak muda berusia di bawah 35 tahun. Menurutnya, mereka akan kesulitan mengeluarkan kreativitasnya jika bekerja se-perti karyawan pada umumnya. “Mereka merupakan generasi muda yang perlu stimulus dalam bekerja,” ungkapnya.
Selain diberi kebebasan dalam berpakaian, para karyawan juga diberi fasilitas. Di dalam studio Gameloft, selain terdiri atas komputer-komputer tanpa sekat, juga tersedia ruang untuk fitnes dan tempat untuk bermain tenis meja. “Ada juga fasilitas sport club, komunitas photography, yoga hingga klub mincing,” jelasnya
Meskipun begitu, dalam proses produksi game, Gameloft me-miliki aturan ketat. Seperti la-rangan membawa kamera dan USB ke dalam studio. Hal itu terkait dengan hak cipta game
Sudah banyak game yang diproduksi di studio Gameloft Jogja. Pangsa pasarnya pun su-dah global dan bisa diunduh di aplikasi Android maupun PC. “Saat ini game dari Gameloft yang paling banyak diunduh yakni Minion Rush, mencapai 207 juta download,” tuturnya.
Studio Gameloft di Indonesia ini sendiri merupakan yang ke-tiga di Asia Tenggara setelah di Vietnam dan Filipina. Perusa-haan game asal Prancis ini sengaja memilih lokasi di Jogja karena ketersediaan SDM, yang menggemari game melimpah.
Di studio Gameloft Indonesia ini mengerjakan proses game designer, graphic atris, progrmer, QA tester, producer dan project management. “Yang bekerja di sini, dasarnya suka main game dulu,” tuturnya.
Di Jogja, dengan banyaknya per-guruan tinggi juga membuka kerja sama bagi Gameloft untuk merekrut para lulusannya. Tetapi, lanjut Andrei, hingga saat ini ma-sih banyak yang belum mema-hami jika membuat game meru-pakan pekerjaan yang menjanjikan.
Menurut dia, industri game prospeknya masih sangat besar. Dari 10 besar aplikasi yang di-unduh, sembilan di antaranya merupakan game. “Kalau diukur pendapatan dari game ini bisa lebih besar dari GDP (Gross Do-mestic Product) Indonesia,” terang Andrei. (*/laz/ong)