Beri Fasilitas lewat RAI Jogjakarta

JOGJA – DIJ menjadi salah satu kawasan tujuan investasi pengem-bangan aplikasi teknologi infor-masi. Terlebih, didukung dengan kualitas SDM di bidang tersebut yang tidak diragukan lagi. Namun sayang, para pengembang sampai saat ini sangat sulit terdata ka-rena karakter usahanya berbeda dengan industri kreatif kerajinan.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) DIJ Riyadi Ida Bagus Salyo mengakui bahwa Jogjakarta menjadi salah satu kawasan industri kreatif yang cukup berkembang, terutama di bidang digital. Hanya saja, tidak semua pengembang bisa terdata oleh pemerintah.
“Kami masih kesulitan menda-tanya. Selain bekerja secara indi-vidu, mereka juga tergabung dalam komunitas. Karya-karya yang dihasilkan juga cukup va-riatif. Lagi pula usaha seperti ini bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Bahkan mereka bisa mem-buat software games hanya dari kamas kos,” kata Riyadi kepada Radar Jogja, Rabu (12/11).
Menurut Riyadi peran pemerin-tah daerah dalam memajukan industri kreatif semacam ini dengan menyediakan failitas pendukung. Upaya yang dilaku-kan dengan menyelenggarakan berbagai lomba animasi di sekolah-sekolah. Dari animasi yang dihasilkan, pemerintah daerah akan memfasilitasinya melalui pameran baik dalam skala lokal maupun nasional.
Harapannya dari pameran ter-sebut bisa menjaring para inves-tor yang akan mengembangkan produk-produk yang dihasilkan. “Sejauh ini memang investasinya kepada SDM. Mereka ditarik oleh perusahaan-perusahaan pengem-bang,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bi-dangIndustriLogam, Sandang dan Aneka Disperindagkop dan UKM Pollin Napitupulu menga-takan untuk menyatukan komu-nitas yang bergerak di industri kreatif IT, pemerintah memfa-silitasi dengan mendirikan Rumah Animasi Internasional (RAI) Jogjakarta. Keberadaan RAI Jogjakarta nantinya diharapkan bisa secara mandiri mengekspor dan memenuhi konsumsi ani-masi dalam negeri.
“Kami sudah menjaring 20 ani-mator yang tergabung dalam industri kecil menengah (IKM). Ditargetkan dua tahun mendatang akan bisa terealisasi,” katanya.Pollin menegaskan kualitas animasi yang diproduksi IKM asal Jogja tidak diragukan lagi. Ini di-buktikan dengan besarnya pesanan produk-produk animasi dalam bentuk permainan maupun film. Apalagi pendapatan yang diha-silkan dari produksi animasi cu-kup menjanjikan.
“Dari IKM produk digital yang tercatat setiap tahunnya baru men-capai lima persen. Sebagian besar IKM ini berasal dari kampus ada juga dari masyarakat,” terangnya.
Terpisah, Executive Director Jogja Digital Valley (JDV) Adietya Arief Nugroho menjelaskan meng-ingat besarnya potensi industri digital, JDV sedang melakukan sensus industri kreatif secara on-line. Tujuannya, jaringan pelaku industri kreatif di bidang digital bisa terdata. JDV sendiri meru-pakan salah satu tempat bagi berkumpulnya komunitas pelaku industri kreatif.
“Hasil dari sensus akan dipu-blikasi dalam bentuk infografik. Selama tahun ini, JDV telah me-miliki lebih dari 2.000 anggota,” terangnya. (bhn/ila/ong)