RADAR JOGJA FILE
MERAKYAT : Salah satu grup yang tampil di pergelaran Ngayogjazz 2012 yang digelar di Brayut, Pandowoharjo Sleman.

Tonjolkan Nuansa Klasik, Rumah Joglo Jadi Panggung Pendamping

Brayut kembali menjadi venue ajang musik bergengsi Ngayogjazz. Ini adalah kali ke dua desa wisata di Pandowoharjo, Sleman itu menjadi tuan rumah pertemuan para musisi jazz.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
BRAYUT memang memiliki banyak pesona. Karenanya, tentu tidak muluk-muluk jika pengelola setempat menahbiskan Brayut bukan sebagai desa wisata biasa. Tapi sebagai desa kebudayaan dan seni. “Ini bukti nyata. Itu (Ngayogjazz), kan, event mahal,” ujar Budi Utomo, salah seorang pengelola Desa Wisata Brayut kemarin (12/11).
Bahkan, desa wisata yang mengedepankan harmonisasi homestay berarsitektur kuno dan modern ini tengah menjadi lokasi syuting film layar lebar. Dua aktris Asti Ananta dan Feby Fe-biola menjadi bintang utamanya. Nah, fakta ini semakin mengu-atkan Brayut sebagai desa wi-sata yang penuh potensi dan layak disejajarkan dengan ho-mestay berkelas nasional. “Jadi, bukan sekadar tempat menginap yang murah. Tapi kami sajikan sesuatu yang ‘mahal’,” lanjut alumnus Fisipol UGM itu.
Memang tidak semua bangunan di Brayut berarsitektur kuno dengan pekarangan luas. Ba-nyak juga pertumbuhan rumah modern, seriring bertambahnya jumlah penduduk. Budi menga-kui adanya pergeseran budaya kuno, tetapi tanpa menghilang-kan nilai-nilai tradisinya. Per-paduan bangunan kuno dan modern justru menjadi daya tarik yang dijual bagi wisatawan
Kembali menjadi lokasi penyeleng garaan Ngayogjazz, warga Brayut kini justru semakin siap. Sebelumnya, Brayut men-jadi penyelenggara event serupa pada 2012. Pengalaman itu men-jadi modal gelaran Ngayogjazz 2014 yang rencananya dihelat 22 Nopember mendatang. “Yang jelas, tentu ada perbedaan dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini ada nuansa klasik yang menonjol,” ungkap pemilik Ani-Ani Jewellery itu.
Kesan unik itu akan ditunjukkan dengan penggunaan rumah joglo sebagai panggung pendamping. Itu sekaligus sebagai antisipasi hujan agar tidak mengganggu pertunjukkan. “Berkaca event sebelumnya selalu turun hujan Kali ini kami lebih matang dengan sejumlah antisipasi,” katanya.
Kesejahteraan masyarakat Brayut juga menjadi bagian pen-ting dari Ngayogjazz. Selain ter-libat menjadi crew, warga mem-peroleh hasil dari jualan makanan atau jasa parkir kendaraan. Event tersebut diperkirakan bakal me-nyedot sedikitnya 10 ribu peci-nta musik. Pengelola Brayut menyediakan tiga kantong parkir yang mampu menampung sedi-kitnya 5 ribu sepeda motor.
Kepala Dusun Brayut Poniman mengklaim, Ngayogjazz tidak semata-mata untuk keperluan komersialisasi. Tetapi juga untuk ajang promosi Brayut agar lebih dikenal secara luas. “Warga turut terlibat, tentu dapat hasil yang menguntungkan. Yang penting, event ini memberi kontribusi un-tuk branding dan pengembangan desa wisata,” katanya. (*/din/ong)