CIPTAKAN SUNGAI BERSIH: Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIJ Didik Purwadi dan Kepala BLH DIJ Joko Wuryantoro (kanan) saat menghadiri acara Hari Bumi tingkat DIJ 2014 di Kebon Agung, Imogiri, Bantul.

Merti Kali Atasi Problem Bakteri Koli

Kualitas air sungai di wilayah Provinsi DIJ dalam kondisi lampu kuning. Sinyal itu terjadi karena faktor tingginya tingkat pencemaran. Terutama menyangkut parameter bakteri koli. Dari pantauan Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ pencemaran bakteri koli itu sudah berada di atas ambang baku mutu.
“ITU MENJADI perhatian sekaligus keprihatinan kami. Namun kami tidak mau menyerah dengan kondisi itu. Kami lakukan sejumlah identifikasi agar problem tersebut segera dapat teratasi,” ungkap Kepala BLH DIJ Joko Wuryantoro di kantornya Jalan Tentara Rakyat Mataram, Jogja, kemarin (12/11).Joko mengungkapkan, tingginya pencemaran bakteri koli itu terjadi di tiga sungai yang membelah Kota Jogja. Mulai dari sisi barat Sungai Winongo, Code, hingga Sungai Gajahwong di ujung timur. Menurut dia, pencemaran itu merata di semua bagian sungai.
“Dari hulu, tengah, sampai hilir,” beber alumnus Fakultas Teknik Arsitektur UGM ini. Birokrat yang memiliki banyak koleksi batik dengan beragam motif itu telah meminta jajarannya mengadakan identifikasi. Dikatakan, pemetaan masalah perlu dilakukan. Sebab, antarwilayah memiliki spesifikasi yang berbeda.
“Identifikasi itu guna mengetahui sumber pencemar air. Tanpa ada identifikasi, tidak mungkin kita dapat temukan solusinya,” terang pejabat yang dikenal punya jejaring cukup luas ini.Selain kegiatan reguler seperti Program Kali Bersih (Prokasih), BLH mulai 2015 meluncurkan agenda lain. Yakni kegiatan Merti Kali. Kegiatan itu semacam reresik sungai dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Merti Kali tersebut dibiayai dengan dana keistimewaan (danais)
“Kami menggali nilai-nilai kea-rifan lokal. Bagaimana pun air adalah sumber kehidupan ma-nusia yang harus diselamatkan dan dijaga kelestariannya,” ung-kapnya.Kabid Pengendalian Pence-maran Lingkungan BLH Agus Setianto menambahkan, tinggi pencemaran bakteri koli itu di-sebabkan berbagai hal.
Di antaranya, karena limbah domestik peternakan, pertanian, maupun rumah tangga. Keadaan itu diperparah oleh perilaku tak sehat sebagian masyarakat. ” Bu-ang air besar sembarangan (BABS) langsung ke sungai,” sesal Agus.Mengatasi perilaku buruk BABS itu bukan hal gampang. BLH juga tak bisa bekerja sendirian. Selama ini BLH selalu berkoor-dinasi dan bersinergi dengan instansi lain. Misalnya, Dinas Kesehatan DIJ dalam rangka menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat.
Setiap tahun BLH juga menga-dakan tiga kali atau periode pemantauan dengan melibatkan Balai Pengujian Informasi Per-mukiman Bangunan dan Peng-embangan Jasa Konstruksi(BPIPBPJK). Jumlah parameter yang dipantau mengacu Pera-turan Gubernur No 20 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Air Bersih di Provinsi DIJ.
Dari 33 parameter, sepuluh di antaranya atau 30 persen seba-gian besar berada di atas baku mutu yang dipersyaratkan. “Namun khusus bakteri koli baik koli total maupun koli tinja be-rada di atas baku mutunya di setiap periode pemantauan,” ucap pria yang sedang menyelesaikan program doctor bidang lingkungan di UNS Surakarta ini.
Hasil pengujian bakteri koli total dan koli tinja antara 3.000-1.100.000 JPT/100 ml. Adapun baku mutu bakteri koli total un-tuk air sungai kelas II sebesar 5.000 JPT/100 ml dan koli tinja 1.000 JPT/100 ml. ” Kondisi ter-sebut tak hanya di Sungai Wi-nongo yang menjadi sasaran Prokasih, tapi di sepuluh sung-ai lain yang ada di DIJ,” papar mantan Kasi Investasi Bappeda DIJ ini
Selama empat tahun 2012-2016, Sungai Winongo menjadi sasa-ran Prokasih. Rencana kerja Prokasih itu meliputi pencega-han pencemaran, penanggu-langan pencemaran, dan pemu-lihan kualitas air.
“Itu masih ditambah dengan pelestarian fungsi daerah aliran sungai (DAS), partisipasi masy-arakat, dan kearifan lokal,” terang birokrat yang tinggal di Perum Melati Permai, Sendangadi, Mlati, Sleman ini.
Tak hanya bakteri koli, BLH juga menaruh perhatian terhadap masalah pengendalian sampah sungai itu. Dari pengamatannya, pengendalian sampah sungai yang relatif baik dilakukan BLH Kota Jogja. Instansi tersebut me-miliki polisi sampah atau ulu-ulu kebersihan. Keterlibatan masy-arakat dalam rangka menjaga kelestarian Sungai Winongo te-lah terjaga.
“Masyarakat berpartisipasi dengan membuat Forum Komu-nikasi Winongo Asri (FKWA),” ujarnya memberikan apresiasi.Keikutsertaan masyarakat se-cara aktif juga ditunjukkan me-reka yang tinggal di bantaran Sungai Code. Secara periodik, digelar kegiatan Merti Code. Sedangkan di Sungai Gajahwong terhimpun wadah Forsidas.
“Semua partisipasi publik itu harus didukung agar ada sinergi. Kami juga akan perkuat kelem-bagaan masyarakat peduli sung-ai,” kata pria kelahiran 29 Agustus 1962 ini. (kus/amd/ong)