DWI AGUS/RADAR JOGJA
TAK ADA KENDALA: Sastrawan Indonesia Landung Simatupang membacakan puisi karya sastrawan Malaysia Irwan Abu Bakar di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta, Senin (10/11) malam.

Perbedaan Negara Tak Jadi Kendala

BANTUL – Perbedaan negara bukan menjadi kendala dalam berkarya sastra. Inilah yang terjadi di Tembi Rumah Budaya, Senin malam (10/11), ketika sejumlah sastrawan Indonesia membacakan puisi karya sastrawan Malaysia. Acara ini di-balut dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke 38 di Tembi Rumah Budaya. Dua karya sastra novel berjudul Meja 17 dan antologi puisi Peneroka Malam dibawakan para sastrawan Indonesia. Kedua novel tersebut merupakan karya Irwan Abu Bakar, seorang sastrawan dari Malaysia. Acara ini sekaligus me-nandai peluncuran kedua karya Presiden Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia itu.
“Saya kira acara ini menjadi menarik dan hidup, karena mampu merepresen-tasikan gaya yang berbeda. Meski ber-beda, tapi kita masih satu rumpun yang memiliki akar sama. Ini sekaligus mem-buka jendela pengetahuan kita semua, terlebih dalam hal sastra,” kata Irwan. Irwan mengakui, awalnya dialek dan logat yang berbeda ditakutkan menjadi kendala. Tapi setelah dibaca, justru mun-cul gaya-gaya yang berbeda. Sastrawan Indonesia yang hadir di Amphit-heatre Tembi Rumah Budaya, ada Slamet Riyadi Sabrawi, dan Landung Simatupang. Keduanya terlihat berusaha keras mem-baca puisi dengan bahasa Melayu.
Menurut Landung, bahasa Malaysia memiliki karakter pengucapan berbeda dengan kata yang biasa diucapkannya. “Saya membawakan Nuklian dalam novel Meja 17 karya Irwan. Awalnya me-mang sulit, karena perbedaan itu. Tapi saya tertantang untuk membawakan karya ini,” katanya.
Menurutnya, karya Irwan kuat akan diksi-diksi Melayu di setiap bait puisi-nya. Bahasa yang diusung juga terbilang tema kontekstual. Sehingga para penyair yang membacanya bisa dengan mudah beradaptasi. Salah seorang penyair Joko Pinurbo turut mengulas puisi Irwan. Dirinya me-nilai, Irwan berusaha menampilkan ke-sederhanaan puisi-puisinya. Irwan dini-lainya berhasil menyuarakan pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang persoalan hidup manusia yang relevan dengan kehidupan di Indonesia.
“Tentu saja, Irwan membawakannya dengan karakter sosio-kultural yang ada di sana (Malaysia),” ungkapnya. Ditambahkan, karya sastrawan Malaysia cukup komunikatif. Setiap bait mampu mengajak pembacanya untuk merenung-kan, sekaligus merefleksikan kembali kesadaran spiritual mereka. Sehingga menurutnya, nyawa dari bait-bait tersebut turut mengajak pembacanya mendalami.
Antologi pusi Penroka Malam berisi 25 sajak, semuanya diulas. Barisan puisi ini dibedah oleh 13 orang sastrawan dan pengamat sastra dari Indonesia. Dengan begitu, buku puisi Peneroka Malam ter sebut tidak hanya menjadi monumen bagi penyair-nya saja, juga bagi pengulasnya. “Ini menjadi impian saya untuk me-nerbitkan karya sastra Indonesia. Lalu akan saya bawa ke Malaysia untuk di ulas oleh sastawan Malaysia. Perbincangan ini sangatlah menarik untuk melihat perkembangan sastra kedua negara,” katanya. (dwi/jko/ong)