HEDNRI UTOMO/RADARA JOGJA
UNGKAPAN KEKECEWAAN: Para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam wadah PMII melakukan aksi bakar ban bekas dalam unjukrasa di gedung DPRD, kemarin (12/11).

Demo Mahasiswa Berujung Kekecewaan

PURWOREJO – Aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Purwo-rejo melakukan aksi demo di gedung DPRD, kemarin (12/11). Para pendemo mengecam sikap DPRD terkait kasus toko-toko modern ilegal, dan kegiatan kunjungan kerja (Kun-ker) dewan yang dinilai hanya mengham-bur-hamburkan uang rakyat.
Namun ara pendemo dibuat kecewa, karena tidak ada satu pun anggota DPRD yang berkantor dan bisa menemui me-reka. Usut punya usut, semua anggota DPRD tengah “bedhol desa” melakukan kunker ke luar daerah. Akhirnya para pendemo harus mau di-temui Sekretaris DPRD Widyo Prayitno yang didampingi staf sekretariat DPRD lainnya. Merasa harapannya tak terpenuhi, massa sempat emosi. Sebagai ungkapan kekecewaaannya, mereka membakar ban bekas di depan pintu masuk kantor DPRD.
Koordinator Lapangan (Korlap) Mukti Ali dalam orasinya mempertanyakan re-komendasi DPRD terkait toko modern yang tidak memiliki izin usaha toko modern (IUTM). “Pertanyaan besar, Komisi A jelas merekomendasikan penutupan toko mo-dern ilegal. Masalah ini sudah jadi polemik cukup lama. Kenapa justru rekomendasi Komisi A itu diubah oleh pimpinan dewan. Ada apa ini,” ucapnya.
Mukti Ali menilai, perubahan sikap itu mengakibatkan perangkat hukum tidak memiliki kewibawaan. Dia menunjuk Perda Nomor 6 tahun 2014 yang merupakan ini-siatif DPRD. Namun kenapa ketika ada pe-langgaran atas perda itu, DPRD memble. “Kami sangat mendukung ketegasan sikap Komisi A yang jelas sudah melakukan kajian teknis dengan dinas terkait,” tegasnya.
Sikap DPRD yang tercermin dari re-komendasi itu menjadi bukti bahwa lembaga wakil rakyat tidak memiliki kepedulian terhadap nasib pedagang pasar tradisional. “Kami minta DPRD agar kembali ke khittah benar-benar sebagai wakil yang memperjuangkan kepentingan rakyat,” katanya lagi.
Ketua PC PMII Muh Arifin menambah-kan, PMII mendesak DPRD tetap menga-wal program pengembangan pasar tra-disional sebagai sektor ekonomi strate-gis bagi masyarakat di Kabupaten Purworejo. Ia juga menyoroti kebiasaan kunjungan kerja yang dilakukan DPRD. “Ini sangat ironis. Kantor wakil rakyat ada rakyat yang mengadu, tapi tidak ada satupun orangnya,” imbuhnya.
Ia juga mempertanyakan relevansi kunjungan kerja yang dinilainnya hanya menghamburkan uang rakyat. “Wakil rakyatnya malah terus-menerus jalan-jalan yang dibungkus dengan kegiatan kunjungan kerja,” kritiknya.
Sementara itu, saat menemui massa, Se-kretaris DPRD Widyo Prayitno meminta maaf karena tidak ada satupun anggota DPRD yang bisa menemui pendemo. Diungkapkan, seluruh anggota DPRD melakukan kun-jungan kerja luar daerah. Komisi A ke Sura-baya dan Bangkalan Madura, Komisi B ke Cirebon dan Indramayu, Komisi C ke Sura-baya, dan Komisi D ke Bekasi. (tom/jko/ong)