DWI AGUS/RADAR JOGJA
AKU RAPOPO: Karya seni Budi Barnabas berjudul Sapta Pesona yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, kemarin. Karya ini mengabadikan tujuh presiden Indonesia dalam bentuk patung. Uniknya presiden ketujuh Indonesia Joko Widodo diletakkan terpisah dari keenam presiden lainnya
JOGJA – Pameran dengan kon-sep yang unik dihadirkan oleh kelompok Buto Cakil di Bentara Budaya Yogyakarta. Bertajuk Aku Rapopo, pameran ini menyajikan karya-karya dari seniman patung Amboro Liring Setyawan, Bar-nabas Budiono, Martopo Walu-yono, dan Rizal Kedthes. Me-reka hadir dengan konsep dan pemaknaan tema sesuai perso-nal masing-masing.
Romo Sindhunata mengatakan, pameran ini lebih menyoroti si-tuasi negara selama satu tahun terakhir. Menurutnya, para seni-man mencoba melihat banyaknya pencitraan dalam dunia politik. Akibatnya program politik terku-bur dengan lomba pencitraan.
“Tema Aku Rapopo memiliki konteks negatif maupun positif. Dalam kacamata negative, me-nyoroti ketidakpedulian atas visi awal negara. Tapi dalam era yang baru ini, memaknai tema dengan konteks yang lebih pe-duli,” kata Romo Sindhu saat malam pembukaan.
Romo SIndhu menambahkan, pilihan tema Aku Rapopo, mer-upakan sebuah ekspresi keikh-lasan. Bermakna tentang pem-berian yang tanpa pamrih dalam memberikan yang terbaik. Ini terlihat dari karya-karya yang disajikan oleh setiap seniman.Budi Barnabas hadir dengan karya yang berjudul Sapta Pe-sona. Karya ini mengabadikan ketujuh presiden Indonesia da-lam bentuk patung. Uniknya presiden ketujuh Indonesia Joko Widodo diletakkan terpisah dari keenam presiden lainnya.
Jika keenam presiden lainnya duduk bercengkerama dalam lingkaran kursi, maka Jokowi berdiri di luar kursi, letaknya di belakang presiden pertama Ir Soekarno. Setiap presiden pun hadir dengan wujud dan ikonik mereka selama pemerintahan.
“Ada Pak Harto dengan seny-umnya, Habibie dengan pesawat di tangan atau Ir Soekarno yang memegang kuas lukis. Melalui patung ini, berharap agar pre-siden saat ini benar-benar dapat memimpin dan melayani ma-syarakat,” harapnya.
Ruang selatan BBY, Martopo Paran hadir dengan karya ber-judul Sangkan Paran. Karya ini terwujud dalam prasasti raksa-sa, dan sisi timurnya ada patung wanita hamil. Untuk penataan ruang pamer, cahaya diatur dengan intensitas rendah.Rizal Kedthes hadir dengan ka-rya berjudul Pranata Mangsa. Dalam karyanya kali ini, dia menge-mas batu dan logam menjadi beberapa karya patung. Seperti buah apel atau cipratan genangan air yang terbuat dari batu.
Amboro Liring hadir dengan ka-rya yang cukup menggelitik. Dirinya membuat patung sapi dengan lima anak kecil di sekililingnya. Dua anak diwujudkan sedang minum susu langsung dari kantung susu sapi. Sedangkan tiga lainnya berdiri tak jauh dari sapi ini. (dwi/jko/ong)