FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
HARUS DIBINA: Tiga pelajar MTsN Kota Magelang tertangkap basah Badan Kesbangpolinmas saat aksi coret-coret tembok. Mereka harus menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya.
MAGELANG – Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Per lindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) terus berperang melawan aksi coret-coret tembok alias vanda-lisme. Kali ini, tiga pelajar MTsN Kota Magelang tertangkap basah melakukan aksi tersebut di Jalan Cempaka, Senin malam (10/11). Mereka adalah Muh Akbar, Farhan Gilang, dan Akil Ihya. Begitu ditangkap, mereka digelandang ke Kantor Badan Kesbangpolin-mas.
“Siswa kelas dua dan tiga ini diketahui tengah mencoret kan-stin dengan cat semprot warna hitam. Pertama kali aksi dike-tahui ajudan Wali Kota Sigit Widyonindito yang langsung menangkapnya dan menyerah-kan ke kami. Saat kami intero-gasi, mereka mengakui sedang mencoret kanstin dengan cat pilok. Alasannya, hanya iseng dan bukan dari geng tertentu,” jelas Kepala Badan Kesbangpolinmas Kota Magelang Joko Wahidin, Rabu (13/11).Para pelaku vandalisme sem-pat berbohong soal asal sekolah. Awalnya, mereka mengaku sekolah di SMP 13 Magelang. Tapi petugas tidak langsung me-mercayainya. Apalagi, guru BK SMP 13 Magelang tidak menge-nali mereka.
“Setelah didesak, akhirnya mengakui sekolah di MTSN Kota Magelang. Guru BK sekolah setempat membenarkan ketiga-nya merupakan siswa sekolah setempat. Ketiganya warga Kali-negoro, Kabupaten Magelang dan baru pertama kali tertangkap aksi tersebut,” katanya.Sebelum melakukan aksi vandalisme, pelaku mengaku belajar kelompok di salah satu rumah teman. Sepulang dari belajar kelompok, mereka nong-krong di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
“Dari situ, kami amankan ke-tiganya dengan barang bukti satu buah pilox warna hitam. Malam itu juga kami undang guru BK dan orangtua mereka. Karena salah satu orangtua me-reka tidak hadir, kami terpaksa menginapkan mereka di kantor hingga esok paginya,” papar-nya.
Joko menambahkan, sebagai hukuman atas perbuatan ini, mereka diminta mengecat ulang kembali kanstin yang dicoret dengan kata-kata inisial nama mereka masing-masing tersebut. Kemudian, menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi perbuatan-nya.
“Kami serahkan mereka ke orangtua masing-masing dan sekolah. Ke depan, kalau ke-dapatan melakukan vandalisme lagi, akan dibawa ke aparat ber-wenang. Semua itu agar ada efek jera, mengingat aksi vandalisme semasih marak di Kota Magelang ini,” katanya.
Selama dua tahun ini, diakui Joko, sudah menangkap basah pelaku vandalisme sebanyak tiga kali. Bahkan, salah satu ka-susnya langsung ditangkap Wali Kota Magelang. “Kami terus memerangi aksi yang mengotori keindahan kota ini. Pak Wali langsung meng-instruksikan agar Kota Magelang bersih dari vandalisme,” katanya. (dem/hes/ong)