Jaksa Sebut Kerugian Penjualan Aset Rp 11,5 M

JOGJA – Belasan mahasiswa didampingi dosen Fakultas Pertanian UGM menggeruduk Pengadilan Tipikor Jogja, siang kemarin. Keda-tangan massa untuk memberikan dukungan kepada empat ter-dakwa kasus dugaan korupsi penjualan aset UGM yang akan men-jalani sidang perdananya. Ke-4 tersangka adalah Guru Besar Fakul-tas Pertanian UGM Prof Susamto W, Mantan Wakil Dekan III Fakul-tas Pertanian UGM Triyanto, dosen Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Ken Suratiyah, dan dosen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM Toekidjo
Dalam aksinya, massa mem-bawa poster bertuliskan Dosen kami bukan koruptor, Pak Su-samto divonis Ibu Pertiwi me-nangis. Sekjen Dema Fakultas Pertanian UGM Restu Tri Pra-setyo mengaku terkejut dan terpukul atas kasus yang me-nimpa dosennya. Sebab, se-lama ini empat orang dosen Fakultas Pertanian UGM itu telah mengabdikan diri untuk menjalankan kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi. “Be-liau tidak punya niatan untuk memperkaya diri dengan cara korupsi. Apa yang dituduhkan kepada beliau salah,” kata Re-stu Tri Prasetyo, saat aksi.
Dari persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nurul Damayanti SH dan Nila Maharani SH men-gatakan, penjualan aset tanah milik UGM di Dusun Plumbon, Kecamatan Banguntapan, Bantul, yang dilakukan ke-4 terdakwa membuat kerugian keuangan negara sebesar Rp 11,5 miliar. Modusnya, sebelum dijual, tanah diatasnamakan Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM.
Jaksa Nurul menguraikan, para terdakwa sesuai peran masing-masing melakukan pe-lepasan hak atas tanah dari De-partemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan UGM ke Yayasan Pembina Fakultas Per-tanian UGM di Dusun Wono-catur, Banguntapan, Bantul, seluas 29.875 meter per segi dan tanah seluas 957 meter per segi serta 422 meter per segi di Dusun Plumbon, Banguntapan, Bantul.
Kemudian pada 2003 sebidang tanah tersebut oleh terdakwa dijual ke pihak ketiga sebesar Rp 510 juta. Selanjutnya disusul pelepasan hak atas tanah di Dusun Plumbon juga seluas 1.534 meter per segi dan 2.539 meter per segi pada 2005 sebesar Rp 2.087 miliar. Pelepasan hak atas tanah juga di Dusun Wonocatur seluas 455 meter per segi dijual ke pihak ketiga Rp 136,5 juta.
“Dari penjualan tanah tersebut, uang yang diterima yayasan se-besar Rp 2,734 miliar,” kata Nurul dalam persidangan yang dike-tuai hakim Sri Mumpuni SH.Menurut Nurul, nilai tanah yang dialihkan dari UGM menjadi tanah Yayasan Pembina Fakultas Perta-nian UGM luasnya mencapai 29.875 meter per segi. Pada 2013, nilai jual objek pajak (NJOP) tanah tersebut sebesar Rp 8,514 miliar. “Atas perbuatan para terdakwa UGM mengalami kerugian ber-upa tanah seharga Rp 11,248 mi-liar. Perhitungan tersebut sesuai audit BPKP,” tambah Nurul.
Selain dijual, tanah seluas 15.000 dari 29.875 meter per segi di Wo-nocatur atas nama Yayasan Pem-bina Fakultas Pertanian UGM dikerjasamakan dengan unit usaha bagi hasil Koperasi Peru-mahan Wana Bhakti Nusantara. Seluruh uang bagi hasilnya masuk ke rekening PT Bina Mulia Buana yang merupakan unit usaha Yaya-san Pembina Fakultas Pertanian.Jaksa juga menyebut, sebagian uang hasil penjualan tanah ma-suk ke rekening pribadi masing-masing pengurus yayasan yaitu Rp 2,477 miliar. Uang itu diguna-kan untuk biaya advokasi, penanganan perkara, kesejah-teraan dosen, dan membeli tanah di Wukirsari, Sleman, atas nama terdakwa Triyanto. Ada pula uang untuk pengembangan usaha milik Yayasan yaitu PT Pagilaran dan PT Bina Mulia Buana.
“Atas perbuatan tersebut, para terdakwa melanggar Pasal ke 1 Primer Pasal 2 Subsider Pasal 3 dan atau kedua Pasal 9 UU No-mor 31 tahun 1999 tentang Pem-berantasan Tindak Pidana Ko-rupsi,” kata Nurul.
Usai mendengarkan pembacaan dakwaan, terdakwa Susamto menga-ku keberatan. Ia meminta kepada majelis hakim agar membatalkan isi dakwaan tersebut. “Kami me-rasa tidak mengerti dengan dak-waan jaksa,” kata Susamto. Mendengar keberatan terse-but, Ketua Majelis Hakim Sri Mumpuni menyarankan ke-pada terdakwa agar menyam-paikan isi keberatannya pada esepsi. (mar/laz/ong)