ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
EKONOMIS: Aktivitas penerimaan minyak bekas (jelantah) di Bank Sampah di Pedukuhan Badegan, Bantul. Minyak bekas ini diolah menjadi sabun padat, detergen cair, dan biodesel.

Satu Liter Jelantah Dihargai Rp 900

BANTUL – Bank Sampah ber-inovasi lagi. Bank yang terletak di Pedukuhan Badegan, Bantul tersebut punya program baru bernama Bank Tigor. Istilah Bank Tigor ini merupakan akronim dari Bank Tilas Gorengan.
Ya, minyak goreng bekas atau yang popular dengan jelantah saat ini dapat ditabung di Bank Sampah. Hanya saja, untuk menabung jelantah nasabah dipersyaratkan harus mempunyai rekening terle-bih dahulu di Bank Sampah. “Se-telah menyetorkan jelantah nanti nasabah dapat uang pengganti yang langsung masuk ke dalam rekening tabungan,” terang kader sekaligus pengelola Bank Sampah Faradela di sela-sela launching program Bank Tigor, kemarin (13/11).
Per satu liter jelantah, nasabah mendapatkan uang pengganti sebe-sar Rp 900. Sebanyak 700 orang yang selama ini tercatat sebagai nasabah Bank Sampah otomatis dapat me-manfaatkan program Bank Tigor.Meski begitu, pengelola Bank Sampah berniat mengembangkan program Bank Tigor ini. Target sa-sarannya adalah penjual gorengan dan pedagang kaki lima (PKL). Saat ini, pengelola Bank Sampah tengah melakukan sosialisasi kepada me-reka. “Karena mereka ini merupa-kan pengguna minyak goreng dan penghasil jelantah banyak,” ujarnya.
Tujuannya, agar jelantah yang dihasilkan tidak terbuang sia-sia. Sebab, nantinya jelantah yang telah terkumpul bakal diolah lagi. Menurutnya, jelantah bakal diolah menjadi sabun padat, detergen cair, dan biodesel. Khusus pengolahan jalantah biodesel, Bank Sampah bekerja-sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Paluma. “Untuk sabun dan detergennya kami olah sendiri,” ungkapnya.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan pemkab Suyoto berharap keberadaan Bank Sampah dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain. Sebab, Bank Sampah bisa menjadi salah satu media untuk mengelola dan mengolah sampah. “Sampah kalau tidak dikelola bisa menyebabkan mun-culnya berbagai penyakit seperti disentri, gangguan pernapasan, dan diare,” tambahnya.
Menurutnya, upaya mengelola dan mengolah sampah juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. (zam/din/ong)