FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA

TERBARU: FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Untidar memamerkan 380 foto jurnalistik karya mahasiswa di aula kampus setempat. Mahasiswa diharuskan mencari objek foto di berbagai tempat sesuai pilihannya.
Digelar FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Untidar

Satu foto menggambarkan ribuan kata. Lewat foto pula, bisa ketahui pesan apa yang ingin disampaikan.
FRIETQI SURYAWAN, Magelang
SEBUAH foto dikatakan karya jurnalistik jika memiliki nilai berita alias news values. Yaitu, aktual, gambar peristiwa terbaru, faktual, asli atau benar-benar terjadi dan bukan rekayasa. Selain itu, juga penting, menarik dan ber hubungan dengan berita.Awalnya, foto jurnalistik berakar dari foto-grafi dokumenter, setelah teknik perekaman gambar secara realis ditemukan. Embrio foto jurnalistik muncul pada 16 April 1877, yang diawali dari Surat Kabar The Daily Graphic di New York yang memuat gambar yang berisi berita ke bakaran hotel dan salon di halaman satu
Dari situ, Universitas Tidar (Untidar) terinspirasi untuk me-masukkan mata kuliah menge-nai foto jurnalistik. Hasilnya, sebanyak 380 foto jurnalistik karya mahasiswa dipamerkan di aula kampus setempat, mulai kemarin (13/11). Hasil foto tersebut diambil dari berbagai daerah. Mulai lokal sampai regional di Indonesia dalam waktu tiga pekan dan masih bersifat aktual.
Dosen Fotografi Jurnalistik Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Untidar Magelang Hari Wahyono mengatakan, pameran fotografi jurnalistik menjadi kali kelima diseleng-garakan. Ia mengakui, tidak ada tema khusus hasil jepretan. Me-nurutnya, semua masih pada koridor jurnalistik berita dan features.
“Setiap mahasiswa semester V, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pen-didikan (FKIP) Bahasa dan Sastra Indonesia wajib mengumpulkan 10 foto. Kegiatan ini diikuti 38 mahasiswa, dengan 380 foto yang dipamerkan,” papar Hari.Sebelum diadakan pameran, para mahasiswa sudah diminta beberapa kali memotret berbagai objek. Hasilnya senantiasa di-evaluasi untuk menemukan yang terbaik. Akhirnya, mereka ber-hasil menelorkan karya terbaik dan dipamerkan ke khalayak.
“Persiapan pameran ini sekitar dua minggu. Saya harap, pre-stasi pameran yang sudah bagus ini tetap dipertahankan. Bahkan, lebih ditingkatkan lagi ke depan-nya,” pintanya.
Ia menjelaskan, dalam proses hunting, mahasiswa tidak di-bebankan dengan peralatan khusus, misal kamera DLSR. Bahkan, mahasiswa diper-bolehkan menjepret mengguna-kan kamera ponsel. Karena yang menjadi hal penting, selain hasil juga kemasan yang bagus. “Kegiatan ini merupakan tugas ujian tengah semester (UTS) mahasiswa. Pameran foto ini akan dinilai dari beberapa unsur. Antara lain, fokus foto, kese suaian judul, dan keterangan foto yang harus menyematkan kadar 5W+1H dalam sebuah fotografi jurnalistik,” paparnya.
Hari berharap, kegiatan ini bisa memberi motivasi. Ter utama bagi generasi muda dalam ber-karya melalui pesan fotografi. Terlebih, mencintai dunia pe-wartaan seperti yang tersemat dalam bidang Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. “Dari sekian banyak pameran yang sudah digelar, bisa dikata-kan ini yang terbaik. Saya harap, ke depan sisi positif ini selalu ditingkatkan,” ujarnya.
Pameran ini diresmikan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Drs FX Sa-mingin MHum. Samingin menga-ku, bangga dengan karya para mahasiswa tersebut. Ia sempat memberi masukan agar di adakan pameran gabungan dengan karya-karya tahun sebelum-nya. “Pameran ini tentu baik dan bermanfaat. Kami harap maha-siswa tidak hanya memenuhi syarat pendidikan atau sekadar formalitas saja, tapi bisa mengem-bangkannya di luar bangku kuliah,” katanya. (*/hes/ong)