SETIAKY/RADAR JOGJA
KASUS NARKOBA: Selain Jambul, polisi juga menahan pelaku penyalahgunaan obat-obatan psikotropika di Mapolda DIJ, kemarin.
grafis-sabu

Diduga Dioperatori Warga Binaan Lapas

SLEMAN – Direktorat Reserse Narkoba (Dit Resnarkoba) Polda DIJ membongkar penyalahgunaan narkotika jenis sabu dari tangan residivis. Adalah Jambul, seorang pengedar yang sudah akrab dengan kasus semacam ini. Jambul sendiri dike-tahui menjadi kaki tangan salah seorang bandar yang diduga beroperasi di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Kasubdit II Dit Resnarkoba Polda DIJ Kompol Angling Guntoro mengatakan, Jambul merupakan orang kepercayaan salah seorang bandar sabu
Disinyalir bandar tersebut ber-operasi di dalam lapas. Jambul sendiri kerap mengedarkan ba-rang tersebut di Semarang, Ma-gelang, dan DIJ. “Jambul kita tangkap di Sema-rang. Terakhir ia membawa sabu seberat 200 gram. Renca-nanya akan diedarkan di Sema-rang, Magelang, dan DIJ,” kata Angling di Mapolda DIJ, kema-rin (13/11).
Dalam penyidikan terhadap Jambul, petugas menduga pela-ku juga memiliki akses atau ja-ringan hingga ke wilayah Aceh. Sejauh ini polisi masih terus melacak jaringan Jambul yang sudah keluar masuk sebagai tahanan penyalahgunaan nar-kotika ini.
Selain itu, Jambul juga di-duga memiliki akses di Lapas Narkotika Pakem. Kemudian saat dilakukan penangkapan, Jambul sempat mengelabui petugas karena memberikan sampel urine orang lain. Namun upaya itu gagal, setelah ia di-minta kembali untuk menye-diakan urine agar bisa dites medis. Hasilnya diketahui Jambul positif mengonsumsi sabu.
Adanya dugaan keterlibatan bahwa Jambul merupakan kaki tangan salah seorang warga bi-naan di lapas, sejauh ini masih membutuhkan penyelidikan intensif. Dit Resnarkoba Polda DIJ sendiri juga mewaspadai pergerakan Jambul yang tidak hanya menjadi orang keper-cayaan bandar, namun juga pengedar sabu dengan jelajah yang tinggi.
“Dugaan warga binaan sebagai operator, perlu kita buktikan se-suai fakta di lapangan ya. Sejauh ini masih terus kami dalami,” ujarnya. Jambul sendiri tak per-lu mengeluarkan uang untuk mendapatkan barang tersebut. Sebab, para operator ini cukup percaya dengan kinerjanya. Lalu, setiap kali ia menyuplai ke peng-edar kecil-kecilan, ia mendapat kompensasi Rp 40 ribu per gram, tergantung pula dari bobot paket yang di edarkan. “Dalam se-minggu, bisa 100 gram saya edar-kan,” kata Jambul. (fid/laz/ong)