YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
BANTU SESAMA: Tri Hardono (tiga dari kanan) di depan Pondok Tetirah Dzikir. Foto kanan, ruang khalwat untuk menampung pasien.

Diakui Pusat, Belum Diketahui Pemerintah Daerah

Pada 2013, Pondok Tetirah Dzikir memperoleh penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas peran sertanya dalam penanganan korban narkoba. Selama 14 tahun berkiprah, pengelola tak membebani pihak keluarga pasien. Pondok butuh sentuhan pemerintah dan kalangan dermawan.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
LOKASINYA memang cukup terpencil. Dari pusat pemerintahan Kabupaten Sleman, butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai lokasi Pondok Tetirah Dzikir di Dusun Ku-ton, Tegaltirto, Berbah. Jika kondisi lalu lintas tak terlalu padat, waktu tempuh bisa lebih cepat. Tempat rehabilitasi korban narkoba, penyandang kelainan jiwa, dan psikotik jalanan ini berjarak sekitar dua kilometer dari balai desa setempat.
Menyusuri jalan aspal pedesaan hingga jalanan tanah. Jalan tanah buatan itulah satu-satunya akses menuju pondok yang dibangun di atas lahan tanah kas desa seluas tiga ribu meter persegi
Lokasi pondok di tengah ham-paran sawah, persis di belakang kelompok pengolahan sampah “Ngudi Mulyo”. Belum genap satu tahun pondok berdiri di kawasan itu. Sebelum-nya, pondok berpindah-pindah lokasi. Pernah di wilayah Mlangi, Gamping, selama 10 tahun. Lalu pindah ke Cangkringan setahun. Kemudian di Berbah tiga tahun, hingga bergeser ke Dusun Kuton sampai sekarang.
Ada lima bangunan utama yang berderet memanjang di tempat itu. Dua berbentuk joglo dan satu limasan. Ketiganya berupa bangunan berbahan kayu dan anyaman bambu. Bangunan joglo paling depan dimanfaatkan un-tuk kantor. Belakangnya, joglo terbuka diproyeksikan untuk masjid. Menempel dengan ruang tinggal pengelola. Bangunan limasan untuk menampung sedikitnya lima pengidap kelainan jiwa.
Dua bangunan lain bertembok batako rapat dengan beberapa loster udara. Bangunan permanen inilah yang digunakan sebagai hunian 40-an pasien kelainan jiwa. Disebut ruang khalwat atau perenungan diri kepada Allah. Separo di antaranya mengalami sakit jiwa yang diakibatkan oleh pengaruh narkoba akut.
Muhammad Tri Hardono, 45, menjadi satu-satunya peng-elola utama pondok tersebut. Dia dibantu santri dan warga setempat. Hardono tinggal di pondok bersama istri dan tiga anaknya yang masih balita.Setiap hari pria paruh baya itu berupaya menyembuhkan para pasiennya. Meskipun dia sendiri mengaku saat ini belum bisa mem-bina atau menyembuhkan pasien. “Lebih tepat baru tahap menga-mankan pasien agar tak meresa-hkan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya, merendah.
Hardono meyakini, metode yang diterapkannya mampu menyem-buhkan pasien. Meskipun tidak sampai kesembuhan total. Ya, selama ini memang belum ada cara ampuh untuk menyembu-hkan penyandang narkoba akut yang sudah terkena jiwanya. Tapi, apa yang dilakukan Hardono, paling tidak bisa meminimali-sasi jumlah penyandang kelainan jiwa akibat narkoba.
“Setelah 40 hari, biasanya ada perubahan. Yang biasa mengamuk, jadi tidak ngamuk,” tutur Hardono yang menggeluti profesinya sejak 2001. Menurut dia, beberapa pasien ada yang sembuh dan berkeluarga atau sekolah lagi. “Itu yang mempe-roleh karomah Allah,” lanjutnya.Metode yang diterapkan ber-upa Toriqoh Qodriyah wa Na’syabandiyah. Ilmu itu dipero-leh Hardono dari Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, kala dirinya menjadi pasien di Pon-dok Inabah. Pondok tersebut juga merupakan panti rehabili-tasi penyandang narkoba dan kelainan jiwa.
Di tempat itu, Hardono menga-ku mencari ketenangan batin sekaligus ngalap berkah. Setahun di pondok, Hardono dipercaya masyarakat memiliki kemam-puan untuk menyembuhkan korban narkoba. Bermodal niat dan pasrah kepada Allah, Har-dono berupaya menerapkan ilmu yang diperoleh dari Surya-laya, hingga menemukan me-tode tersebut yang lebih mengan-dalkan kekuatan daya rohani. Hingga kini pasiennya men-capai puluhan orang. Bahkan tak sedikit berasal dari luar dae-rah seperti Bandung, Aceh, dan Makassar. Dalam penerapan toriqoh, tiap pasien diwajibkan mandi tobat tengah malam. Lalu salat sunat malam, dila-njutkan dzikir.
Bagi sebagian pasien, metode tersebut cukup ampuh. Hanya, kondisi pasien yang tinggal di pondok tersebut diakui Har-dono belum layak. Karena ba-gian dalam ruang khalwat hanya berupa los dengan sekat pancuran air yang selalu mengucur. Tak ada pagar pengaman, yang memungkinkan pasien melari-kan diri setiap waktu saat penjaga lengah. “Kami memang krisis sumber daya manusia (SDM). Kami hanya punya ilmu dan sedikit tenaga,” ungkapnya.
Hardono berterus terang bahwa saat ini butuh uluran tangan pemerintah atau kalangan der-mawan untuk pengembangan pondok. Bukan semata-mata untuk pondok, tapi kenyamanan para penghuni (pasien). Para pasien terpaksa dikurung di ru-ang khalwat. Sebab, jika lepas justeru akan meresahkan ma-syarakat. “Sebenarnya kasihan mereka. Tapi situasinya memang sedang seperti ini,” katanya.
Atas perjuangan Hardono itu-lah hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganu-gerahi penghargaan dalam rangka peringatan Hari Antinar-koba Internasional. Meski tem-pat mengontrak, tapi bisa me-nampung korban tanpa mem-bebani pasien. Namun, seiring bertambahnya jumlah pasien, Hardono berharap kepada ma-syarakat tak asal menyerahkan orang berkelainan jiwa. Tapi turut memberi sumbangsih seik-hlasnya, apa pun bentuknya, demi perawatan pasien.
“Kami memang butuh dukungan pemerintah dan bersinergi dengan banyak pihak,” ujar Hardono. Setidaknya, kebutuhan yang cu-kup mendesak adalah untuk pa-gar pengaman. Atau membangun masjid. (*/laz/ong)