RADAR JOGJA FILE
TUNGGU KEPASTIAN : Selebrasi para pemain PSS Sleman ketika mengalahkan PSBI Blitar di Maguwoharjo International Stadium (14/5) lalu. Sebagian dari mereka saat ini menunggu kepastian apakah tetap di Sleman atau mencari klub lain.

Menunggu Komisi Disiplin Publikasikan 30 Poin

SLEMAN – Manajemen PSS Sle-man memilih untuk tidak berko-mentar banyak soal 30 poin hu-kuman yang sudah dijatuhi Ko-misi Disiplin (Komdis) PSSI bagi Super Elang Jawa (Super Elja) dan Tim Mahesa Jenar-julukan PSIS. Hukuman itu dijatuhkan se-bagai buntut “tragedi” yang disebut sepak bola gajah kala kedua tim berlaga di Delapan Besar Divisi Utama 2014 di Stadion Sasana Krida AAU, Minggu (26/10) lalu
Saat ini, manajemen tim berjuluk Super Elang Jawa itu hanya menung-gu diumumkannya amar putusan yang sampai saat ini ma-sih dirahasiakan oleh Hinca Pan-djaitan dan jajarannya.Direktur PT Putra Sleman Sem-bada (PT PSS) Supardjiono mengatakan, pihaknya memilih duduk manis saja menunggu pengumuman tersebut. PSS juga belum berfikir rencana ke depan. Apakah bakal kembali melakukan banding keputusan Komdis soal hukuman personal kepada pelaku sepak bola gajah atau menerimanya.
“Sebenarnya sah-sah saja kalau kami sudah berencana melaku-kan banding walaupun 30 poin putusan Komdis belum diumum-kan. Tapi saya lebih memilih menunggu,” ujar pria yang ber-profesi sebagai kontraktor ini.Pardji berharap keputusan yang diambil Komdis adil untuk semua pihak. Dengan kata lain mereka hanya menghukum orang-orang yang memang bersalah dalam tragedi memalukan di laga yang dimenangi PSS Sleman 3-2 itu.
Terkait kesimpulan Komdis kalau skandal yang melibatkan PSS dan PSIS hanya bagian dari konspirasi besar pengaturan skor di Indonesia, Pardji menga-presiasi Hinca cs. Ia berharap dugaan match fixing bisa ditun-taskan. “Ya, tentunya saya ber-syukur karena Komdis sadar kalau ada PSS v PSIS hanya aki-bat dari karut marutnya pengel-olaan kompetisi terutama Di-visi Utama. Saya harap Komdis juga bisa menuntaskan kasus ini. Tidak hanya PSS dan PSIS yang kena,” ungkapnya.
Terkait upaya pengajuan Penin-jauan Kembali (PK) ke etua Umum (Ketum) PSSI soal hu-kuman diskualifikasi, Pardji menyatakan dirinya belum bisa melakukannya. Apalagi surat penolakan banding mereka belum diter-bitkan Komisi Banding (Komding) PSSI.Pardji sekali lagi me-negaskan kalau surat penolakan banding itu sangat dibutuhkan se-belum mengajukan PK. Ya, manajemen PSS harus menge-tahui terlabih dahulu dasar hukum apa yang digunakan Komding menolak banding mereka dan PSIS.
“Kira-kira seperti itulah, soal PK diskualifikasi saya juga belum bisa melakukannya. Bagaimana mau melakukannya jika surat ban-ding saja belum terbit,” tegasnya.
Di bagian lain, Pardji juga tidak mau mengomentari tuntutan mundur yang dilayangkan be-berapa pihak. Beberapa hari lalu mantan Manajer PSS Hen-dricus Mulyono sempat me-nyarankan agar dua orang yang terlibat dalam manajerial PSS mundur dari jabatannya.Kata sosok yang akrab disapa Mbah Mul tersebut manajemen memang belum tentu terlibat dalam skandal sepak bola gajah. Tetapi alangkah baiknya sebagai bentuk pertang-gungjawaban Pardji dan Direkutr Operasional PT Putra Insan Man-diri (PT PIM) Rumadi angkat kaki dari Super Elja.
“Wah soal itu saya juga belum mau komentar. Tapi saya meng-hormati saran dari Mbah Mul. Karena beliau juga sesepuh di PSS,” jelasnya. (nes/din/ong)