SLEMAN – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI rencananya akan mengumumkan hukuman final bagi pelaku sepak bola gajah yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS Se-marang hari ini. Hinca Pandjaitan dan jajarannya ten-tu akan membuka siapa-siapa saja aktor intelektual dalam peristiwa memalukan kala PSS Sleman menjamu PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida Akademi Ang-katan Udara (AAU) Minggu (26/10) lalu. Tetapi tidak ada yang menjamin apakah Komdis kem-bali menunda pengumuman atau tidak. Sebab sebelum-nya setelah bersidang awal pekan lalu, seharusnya Hinca cs langsung mengumumkan sanksi final terhadap para pelaku skandal. Dengan alasan harus melapor terlebih dahulu pada FIFA dan AFC, Komdis memilih untuk men-gundur pengumuman sanksi. Padahal sanksi tersebut sudah dirumuskan dengan bentuk 30 poin putusan.
Kelompok suporter PSS yang tergabung dalam Slemania tidak sabar menunggu terungkapnya dalang dibalik skan-dal sepak bola gajah itu. Sekretaris Slemania, M Sanusi mengatakan, siapa pun dalangnya jelas tidak pantas lagi bercokol di manajemen tim berjuluk Super Elang Jawa itu.Untuk itu, sebelum Komdis mengumumkan sanksi, M Sanusi mendesak agar PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), sebagai badan hukum pengendali manajerial PSS buka-bukaan kepada masyarakat. Sanusi berharap PT PSS sudah menunjuk pelaku utamanya. “Kami percaya, tidak mungkin pelakunya dari luar PT PSS. Saya berharap PT PSS terbuka kepada masyarakat,” jelasnya di sela-sela acara Hari Ulang Tahun (HUT) Laskar Matrix Sle-mania di Dusun Kayen, Sleman kemarin (16/11).
Jika sudah ketahuan siapa dalangnya, dia meminta orang tersebut “diusir” dari PSS. Sebab, pencedera sportivitas me-mang tidak layak untuk menakhodai PSS. “Kami tidak ingin melakukan tuntutan mundur sebelum dalangnya ketahuan. Pelakunya itu benar-benar sudah mengotori PSS,” jelasnya.Sanusi kasihan kepada para pemain. Sebab banyak di antara mereka yang tidak tahu apa-apa. “Tentunya saya kasihan juga dengan Hermawan dan Awank (Agus Se-tiawa, red). Meskipun mereka pelaku bunuh diri, mereka kan hanya menjalankan perintah saja,” tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Slemania Lilik Yuli-anto menanggapi ancaman dikeluarkannya PSS dari keang-gotaan PSSI. Ya, wacana ini muncul setelah terdengar kabar kalau FIFA memerintahkan PSSI untuk “memecat” PSS.Menurut Lilik, PSS jelas tidak pantas mendapat sanksi seberat itu. Menurutnya yang seharusnya diberi sanksi adalah oknum PT PSS yang menjadi otak sepak bola gajah. “Soal hukuman diskualifikasi memang tak bisa dihindari. Tapi untuk hukuman pemecatan dari PSSI itu jelas tidak pantas. PSS adalah milik masyarakat Sleman. Sedangkan yang bersalah adalah oknum di PT PSS. Oknum inilah yang seharusnya tidak boleh lagi aktif di sepak bola,” tegasnya.
Lilik juga menyatakan PT PSS bukanlah pemilik PSS. Melainkan hanya badan hukum yang ditunjuk menjadi pengelola PSS. Jadi, tidak bisa PSS harus terkena getah dari kesalahan yang dilakukan PT PSS. “Apalagi yang melakukan ini hanya oknum,” paparnya. (nes/din/ong)