YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KUMUH:Sampah-sampah dari rumah tangga banyak yang dibuang ke Selokan Mataram. Akibatnya, selain kumuh, sampah-sampah ini juga menimbulkan bau tidak sedap.
KALASAN- Sampah ternyata masih menjadi masalah serius di wilayah timur Kabupaten Sleman. Ironisnya, sampah-sampah dari rumah tangga juga dibuang sem-barangan di aliran Selokan Mataram. Pemandangan itu tampak di se-panjang saluran irigasi tersebut di wilayah Kecamatan Kalasan. Parah-nya, talud pembatas selokan tidak lagi mampu membendung besarnya volume sampah yang mengalir di selokan. Akibatnya, sedikitnya tiga saluran irigasi di dua desa, Purwo-martani dan Tamanmartani terkon-taminasi limbah rumah tangga.
Para pembuang sampah ditenga-rai bukan warga lokal. Tetapi pendatang atau warga luar desa yang sengaja membuang sampah ke Selokan Mataram. Mereka biasanya melakukannya sambil berkendara sepeda motor.
Warga setempat sudah berupaya memasang papan bertuliskan la-rangan membuang sampah di selo-kan ini. Tetapi ternyata imbauan ini tidak membuahkan hasil. Volume sampah justru kian bertambah setiap hari. Bahkan ada oknum yang mem-buang sampah secara terang-terang-an dengan gerobak atau mobil pikap.
Namun, warga setempat enggan menegur karena khawatir justru mendapat kesalahpahaman. “Setiap hari seperti itu. Paling sering, ya, orang lewat, buang (sampah) dengan kantong plastik,” beber Sumardiyono, 55, salah seorang petani asal Taman-martani kemarin (17/11).
Didukung pemerintah kecamatan, beberapa kali warga mengadakan kegiatan bersih-bersih selokan. Tetapi dampaknya belum begitu terasa bagi petani. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang. Tumpukan sampah berserakan di lahan persawahan seakan men-jadi hal biasa. “Ini jelas merepotkan. Sampah harus dibersihkan agar tidak menggangu tanaman,” lanjut petani paruh baya itu.
Hal yang paling dikhawatirkan Sumardiyono jika sampah rumah tangga mengandung zat kimia berbahaya. Misalnya, sisa sabun mandi atau bekas cucian perabot piring dan gelas. Jika zat tersebut mencemari air irigasi akan ber-pengaruh pada kualitas panen.
Saat kemarau, pasokan air sering telat karena saluran irigasi ter-sumbat sampah. Padahal, air Selokan Mataram menjadi satu-satunya sumber irigasi bagi lahan persa-wahan di kawasan tersebut.
Petugas Kantor Pengawas Selokan Mataram II Hari Subandriyo mem-benarkan pihaknya sering mene-rima laporan dari warga tentang oknum yang membuang sampah sembarangan. “Bukan hanya sam-pah rumah tangga. Kasur bekas juga dibuang di sini,” ungkapnya.
Kendati begitu, Hari mengakui sulitnya melakukan pengawasan.
Sebab, tugas pengawas selokan bukan hanya memperhatikan para pembuang sampah. Apalagi, objek yang diawasi sejauh 15 kilometer, dari kawasan Monjali sampai Sungai Opak. Pengawasan dilakukan 21 petugas. Keterbatasan jumlah personel menyebabkan pengawasan kurang optimal.
Kepala Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sapto Winarno menjelaskan, se-belum ada kebijakan pegawai, pemkab memiliki lebih dari 500 tenaga penjaga saluran irigasi. Mereka adalah tenaga honorer daerah. Setelah banyak yang pen-siun, kini sisa tak lebih dari 90 orang. (yog/din/ong)