DWI AGUS/RADAR JOGJA
WAYANG BOROBUDUR: Dirut PT TWC Lailly Prihatiningtyas (kanan) saat peluncuran film tentang penemuan Candi Borobudur, kemarin (16/11).

Sajikan Sejarah Penemuan Kembali Candi Borobudur

SLEMAN – Penemuan kembali Candi Borobudur oleh Thomas Stamfod Raff-les, tahun ini telah memasuki usia 200 tahun. Berbagai upaya pun dilakukan oleh PT Taman Wisata Candi untuk te-rus menjaga peninggalan bersejarah ini.Direktur Utama PT TWC Lailly Priha-tiningtyas berinisiatif membuat film berdurasi pendek. Film yang dipro-duksi bersama Perum Produksi Film Negara (PPFN) ini menyajikan sejarah penemuan kembali Candi Borobudur.
“Format film pendek dengan ani-masi yang mengisahkan penemuan kembali Candi Borobudur. Diangkat kembali dari awal penemuan hingga perkembangannya hingga saat ini,” kata Tyas saat ditemui di Sheraton Mus-tika Jogjakarta, akhir pekan lalu.Film berdurasi 15 menit ini dliuncur-kan saat penutupan The 3rd Borobudur Writers and Cultural Festival 2014. Da-lam film ini digambarkan bahwa Can-di Borobudur pada awalnya tertutup semak belukar.Film ini pun diwujudkan dengan pe-mentasan Wayang Borobudur yang dibuat Sujono
Wayang yang mengangkat kea-rifan lokal Borobudur ini diba-wakan oleh dalang asal Magelang Ki Agung Prasetya.Perempuan kelahiran Jombang Jawa Timur Desember 1985 ini menuturkan film tidak hanya mengenang, tapi juga mengenal Borobudur lebih dalam. Terma-suk bagaimana nilai seni budaya dapat tumbuh di sekitar Boro-budur. Hingga posisi penting candi bersejarah ini dalam ke-hidupan bangsa Indonesia.
“Candi Borobudur dikelilingi oleh seniman-seniman seni rupa, penari, wayang, dan lainnya. Kita juga usung konten lokal yang ada di sekitar Borobudur. Wayang merupakan kesenian yang bisa mempresentasikan sejarah Can-di Borobudur,” ungkapnya.Film ini pun masih dinikmati secara terbatas dan bukan untuk umum. Rencananya film yang menghabiskan dana Rp 500 juta itu akan diikutkan dalam festival film pendek. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga festival film di luar negeri.
Dengan mengikutkan ke ajang festival juga merupakan wujud promosi. Terlebih beberapa fes-tival film internasional seperti Busan International Film Festi-val di Korea, menjadi target keikutsertaan. “Bisa menjadi ajang promosi pariwisata, juga untuk Indone-sia. Selain itu, harapannya film ini juga dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Ini ka-rena sumber cerita film ini di-ambil dari teks-teks sejarah yang ada,” tandas Tyas. (dwi/laz/ong)