DWI AGUS/RADAR JOGJA
WAJIB: Tujuh peserta beasiswa PSBK saat menggelar pameran bertajuk Kelir, kemarin (18/11).

Dasar Ilmu Bebas, Peserta Wajib Berpameran

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) memiliki peran penting memajukan kesenian di Jogjakarta. Salah satunya adalah mengadakan program beasiswa belajar kesenian. Ruang Seni Rupa (RSR) merupakan bentuk representasi dukungan kepada dunia seni ini.
DWI AGUS, Bantul
PROGRAM ini telah berjalan sejak April tahun ini dan melibatkan puluhan pegiat seni. Tidak hanya terfokus pada seorang seniman. Bahkan, individu yang tidak ter ikat pada disiplin ilmu seni turut bergabung dalam ajang ini.”Ini merupakan media saling belajar dan berbagi keilmuan. Selain mengajarkan ten-tang wujud dan pandangan seni, kita juga berbagi atas pandangan persepsi peserta beasiswa ini,” ujar salah seorang curator, Citra Pratiwi kemarin (18/11).
Tidak hanya belajar, dalam RSR ini setiap peserta juga wajib berpameran. Bulan ini, RSR pun telah memasuki gelaran pameran ketiga. Kali ini pameran bertajuk Kelir me-libatkan tujuh seniman peserta beasiswa PSBK.
Sebagai media belajar, saling melihat dan berbagi, konsep unik diusung dalam pa-meran ini. Sebuah kain panjang berukuran puluhan meter dibentangkan. Ketujuh pe-serta ini lalu diminta untuk merespons bentangan kain.”Untuk pameran kali ini kita batasi mate-rial pamerannya. Selain kain, setiap pe-serta hanya boleh menggunakan kayu, bambu dan cahaya. Dengan bahan yang ada ini, harus bisa mengoptimalkan dalam wujud karya,” kata Citra.
Ristyanto Cahyo Wibowo merespons ide ini secara kreatif. Peserta beasiswa dari Seni Rupa ISI Jogjakarta ini hadir dengan konsep yang unik. Ris, panggilan akrabnya, menuangkan konsep ini dengan mengha-dirkan beberapa figur.Figur-figur ini memiliki makna yang ber-beda. Seperti sosok yang berdiri di atas lantai, potret dirinya dengan puluhan paku di tubuh dan sosok yang melayang
Untuk menggarap pameran RSR kali ini, Ris menggali mak-na Kelir.”Merespons sebagai makna kehidupan yang kita lalui. Tapi secara spesifik melihat kehidu-pan berkesenian di PSBK. Kalau karya yang diusung merupakan wujud motivasi, meski dalam sebuah tekanan,” kata Ris.Dalam kelompok ini ada juga lulusan Arsitek UGM Zulfian Amrullah. Berbekal Sculpture dirinya berminat mendalami ilmu seni rupa. Keputusan ini harus dibayar secara serius olehnya. Ini karena Zulfian awalnya sudah bekerja di se-buah konsultan arsitek di Aus-tralia.
“Ada panggilan jiwa yang mem-buat saya ingin kembali ke Jog-jakarta. Bertepatan dengan itu, kebetulan ada program bea-siswa PSBK. Tertarik bergabung untuk mendalami ilmu seni rupa,” ungkapnya
Mahasiswi Seni Rupa UNY Nurmaya mengaku metode yang diajarkan berbeda dengan aka-demik formal. Di PSBK dirinya belajar bagaimana melihat ide dan gagasan dari sesama seni-man. Bahkan dalam setiap per-temuan, lebih sering dilakukan tukar ide dan gagasan.
Dengan adanya pembatasan media, dirinya justru tertantang. Bagaimana berlaku kreatif me-ski dalam koridor yang terbatas. Metode ini pun diakuinya dapat membuat seorang seniman lebih fokus dalam berkarya.”Terbatas tapi lebih hadir se-cara kreatif dan beda. Kita juga melihat karya teman-teman lain-nya. Memaknai persepsi yang berbeda, tapi untuk satu kesa-tuan,” katanya. (*/laz/ong)