GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SIGAP: Polisi menyelamatkan warga dari gas air mata saat kericuhan demo mahasiswa menolak kenaikan harga BBM di simpang tiga Kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, kemarin (19/11).

Hari Ini Organda Mulai Beroperasi

JOGJA – Ancaman mogok Organisasi Ang-kutan Darat (Organda) sebagai bentuk protes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, kemarin (19/11) benar-benar dila-kukan. Akibatnya, para calon penumpang telantar, baik di Terminal Giwangan, Terminal Jombor, maupun yang menunggu di jalan karena tidak tahu ada aksi mogok.Di terminal bus Giwangan, hanya suasa-na lengang yang terlihat. Tak sedikit calon penumpang yang kebingungan karena tak ada bus yang bisa ditumpangi untuk melan-jutkan ke daerah tujuan
Di Terminal Jombor, Sleman, juga banyak penumpang telan-tar. Bahkan beberapa wisatawan asing sempat bingung untuk tujuan Candi Borobudur.Namun demikian, ketelantaran calon penumpang tidak semakin parah karena ada kendaraan dari TNI dan Polri yang dikerah-kan untuk menggantikan bus-bus yang mogok. Tidak hanya mobil, polisi dan TNI juga menyediakan truk-truk untuk mengangkut ca-lon penumpang dari Jogja menu-ju kota tujuan seperti Magelang maupun arah Klaten.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dis-hubkominfo) DIJ Budi Antono mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi pemogokan ini. Yakni melakukan koordinasi dengan Organda DIJ dan disepa-kati untuk Trans Jogja, taksi dan Damri tetap beroperasi.
“Kami berikan apresiasi tinggi karena ternyata mereka juga ma-sih mengutamakan pelayanan ke masyarakat,” ujar Budi di sela melakukan pemantauan di Ter-minal Giwangan, kemarin (19/11)
Selain itu, Dishubkominfo DIJ juga meminta bantuan pihak kepolisian dan TNI untuk me-nyiapkan bus maupun truk guna mengangkut penumpang yang telantar. Dari Korem 072/Pamungkas menyiapkan delapan bus dan tujuh truk dengan 34 pengemudi. Pemkot Jogja juga menyiagakan armada bus dan truk yang dimiliki.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Jogja Bekti Zu-nanta menjelaskan, beberapa bus luar kota yang harusnya masuk ke Terminal Giwangan dipaksa berhenti sebelum ma-suk ke wilayah DIJ. Menurut dia, bus dari Jawa Tengah yang dari barat dihentikan di Pur-worejo, sedangkan bus dari Semarang dihentikan di Mage-lang. Tapi untuk bus tujuan Solo dan Surabaya masih bero-perasi, meski tidak sebanyak biasanya. “Sejak pagi sudah tidak ada bus yang masuk ter-minal,” jelasnya.
Untuk beberapa bus dari Solo dan Surabaya, jelas Bekti, ada yang masih beroperasi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak hari biasa. Sedang-kan angkutan perkotaan di Jogja masih tetap dapat dilayani dengan armada Trans Jogja. Untuk bus antar kota dalam provinsi (AKDP) tujuan sejumlah kabupaten di DIJ, tetap beroperasi.

Khawatirkan Onderdil Juga Ikutan Naik

Jika sehari kemarin pengusaha angkutan menggarasikan bus-busnya, hari ini (20/11) mereka mulai mengoperasikan armada-nya kembali. Hanya saja saat operasional hari pertama usai kenaikan harga BBM, pengusaha bus sepakat menaikkan tarif se-pihak yakni sebesar 30 persen.”Ini baru tarif sementara. Kami masih menunggu koordi-nasi dengan Perhubungan (Di-nas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika DIJ),” jelas Ke-tua DPD Organda DIJ DIJ Agus Supriyanto, kemarin (19/11).
Agus menjelaskan, kenaikan tarif 30 persen itu memperhati-kan berbagai aspek. Mulai spa-repart yang mereka perkirakan juga ikutan naik, sampai bebe-rapa kebutuhan kendaraan yang lain. “BBM naik, semua onder-dil pasti juga naik,” tandasnya.
Atas kenaikan sepihak ini, kata Agus, pihaknya sudah mengi-rimkan pemberitahuan ke seluruh Dinas Perbubungan di kabupa-ten/kota dan DIJ. Pemberita-huan ini mereka maksudkan agar bisa dapat mendapatkan perha-tian dari pemerintah. “Sampai ada kesepakatan dengan per-hubungan,” tambahnya.Padahal, Menteri Perhubung-an Ignasius Jonan telah mene-tapkan kenaikan tarif angkutan darat ini maksimal 10 persen. Ini berlaku untuk semua ang-kutan darat. Termasuk kereta api yang dioperasikan BUMN, juga ikutan naik.”Kalau dibatasi 10 persen, jelas tidak menutup operasional. Ti-dak mungkin, kenaikan BBM saja lebih lebih dari 30 persen,” kritik Agus.

UMKM Terancam Gulung Tikar

Penolakan pencabutan sub-sidi BBM tak hanya dilakukan kalangan mahasiswa. Pengamat usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) UGM Dr Hem-pri Suyatna menilai, pemerintah terburu-buru mengeluarkan kebijakan yang mengakibatkan harga premium naik Rp 2 ribu menjadi Rp 8.500 per liter.
Hempri menyebut kebijakan Presiden Joko Widodo itu bakal mencekik pelaku usaha kecil. Pelaku UKM bakal terseok-seok menghadapi peraingan pasar be-bas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) awal 2015. “Kalau pemerin-tah bijak, seharusnya kenaikan bisa bertahap. Tidak langsung Rp 2 ribu per liter,” ujarnya kemarin.
Dikatakan, dalam kondisi saat ini saja masih banyak pelaku usaha kecil harus berjuang me-lawan keterpurukan. Agar tidak gulung tikar, lanjut Hempri, pen-gusaha terpaksa melakukan penurunan produksi. Yang lebih ekstrim, tak sedikit yang ter-paksa mengurangi jumlah te-naga kerja. Kemungkinan itu bukan saja terjadi pada usaha kecil. Perusahaan besar pun bisa terkena imbasnya. “Itu ar-tinya, jumlah pengangguran akan bertambah,” katanya.
Hempri mengatakan, kenaikan harga BBM berakibat melonjaknya biaya produki. Hal ini akan beru-jung pembengkakan harga pro-duk UMKM. Di sisi lain, daya beli masyarakat justeru menurun. Dengan begitu, bukan tak mun-gkin produk UMKM makin ter-tinggal oleh produk asing dalam pasar bebas MEA.
“UMKM bisa babak belur bersaing di MEA. Seharusnya pemerintah turut memikirkan hal itu sebagai bahan per-timbangan,” ucap dosen Sosia-tri itu. (pra/eri/fid/yog/laz/ong)