Imbas Naiknya Harga BBM

JOGJA – Sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) DIJ dinilai cukup mampu menghada-pi persoalan terkait kenaikan harga bahan bakar minya (BBM). Meski membawa dampak, hal tersebut tidak akan menyebabkan sektor UMKM menjadi terpuruk. “Terbukti, para pelaku UMKM sudah terbiasa dengan segala se-suatu yang tantangannya lebih berat. Mungkin lebih berat dari kenaikan BBM,” kata Direktur Pe-masaran BPD DIJ Bambang Kun-coro di kantornya, kemarin (19/11)
Sementara terkait pengaruh kenaikan harga BBM dan ren-cana peningkatan BI Rate, Bambang menjelaskan belum bisa mem-berikan kebijakan tersebut. Sebab dampak lebih jauh kenaikan harga di Jogjakarta juga harus melihat UMKM yang mengakses kredit di BPD DIJ.Lebih lanjut, Bambang menga-takan, tidak akan buru-buru mengambil sikap terkait kredit. Pihaknya akan lebih intensif ber-komunikasi dengan UMKM agar bisa diketahui ada tidaknya kesu-litan dalam pembayaran.
Sedangkan untuk penyaluran kredit produksi di BPD DIJ, Bambang mengungkapkan, besarnya mencapai Rp 2,6 triliun. Dari jumlah tersebut 70 persen tersalurkan bagi sektor UMKM. “Untuk penyaluran kredit hingga akhir tahun telah mencapai Rp 5,1 triliun,” jelasnya.Penyaluran kredit lain, besarnya mencapai Rp 2,5 trilun yang disalur-kan bagi kredit konsumtif. Menurut Bambang untuk kredit konsumtif cukup banyak. Terlebih, di BPD DIJ telah menangani keuangan pegawai negeri sipil (PNS). “Dalam catatan ada sekitar 83.000 orang yang tercatat masuk dalam penyalu-ran kredit kami,” kata Bambang.
Terpisah, Kepala Kantor Perwa-kilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santosa menerangkan sektor UMKM DIJ diprediksi dapat melalui terpaan kenaikan harga BBM. Berdasarkan pengalaman yang ada, dampak inflasi di masyarakat cepat dilalui. “Ini karena karekter industri di Jog-jakarta relatif bukan industri skala besar. Sehingga dampak kenaikan harga BBM tidak sebesar yang dira-sakan industri besar yang harus menanggung tunjangan karyawan yang cukup besar juga,” kata Arief.
Terkait dengan inflasi, Arief yang juga menjabat sebagai Ketua III Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ ini menjelaskan ber-dasarkan simulasi kenaikan BBM sebesar Rp 2.000 maka hal itu akan memengaruhi inflasi sebesar 2 persen. Namun dia memperkirakan inflasi yang terjadi di DIJ di bawah 2 persen. “Inflasi saya perkirakan tidak lebih tinggi dari nasional yang diperkirakan mencapai 7,3 persen,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan rapatTPID DIJ yang telah dilakukan pada Senin lalu (17/11) dihasilkan beberapa catatan dalam upaya penanggulangan dampak kenaikan BBM. Di antaranya menjamin pasokan BBM dari Pertamina aman. Kepolisian juga memastikan dan mencegah upaya penimbunan BBM. “Kami juga bersama pe-merintah daerah akan meninjau ulang tarif angkutan darat,” terangnya. (bhn/ila/ong)