SEMENTARA ITU, Kebijakan pemerintah dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mendapat respons keras dari usaha jasa transportasi di se-jumlah daerah, termasuk di Kulonprogo. Kendati tidak semua angkutan mogok beroperasi, namun sebagian besar melaku-kan aksi stop beroperasi. Itu sebagai bentuk toleransi atas aksi serupa di seluruh daerah di Indonesia.Ketua DPC Organda Kulon-progo Djuwardi mengungkap-kan berdasarkan hasil kesepa-katan bersama, Rabu (19/11) kemarin diputuskan untuk ber-henti beroperasi. “Bukan mogok tapi stop beroperasi, artinya bagi angkutan yang sudah me-miliki pelanggan pagi boleh mengantarkan sampai ke tujuan, namun pulangnya biar dijem-put keluarganya,” ungkapnya.Menurut Djuwardi secara umum situasi di Kulonprogo relatif aman, para supir angkot juga tidak melakukan aksi sweeping se-sama angkot yang tetap bero-perasi untuk melayani pelanggan.
“Kami juga tidak berani menye-rukan mogok, karena kami juga tidak memberikan kom-pensasi pengganti uang bagi yang mogok. Jadi sekali lagi istilahnya bukan mogok tapi stop beroperasi, dan hanya satu hari ini saja,” tandasnya.Dijelaskan Djuwardi di Kulon-progo sedikitnya ada 100 lebih angkutan yang melayani enam trayek. Beberapa di antaranya termasuk Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Wates-Jogjakarta.
“Kalau dulu ada sekitar 300 lebih, tapi sebagian kan angku-tan tua jadi harus kanibal. Nah, yang dikanibalkan itu yang ber-henti,” jelasnya.Djuwardi menyatakan pada dasarnya Organda Kulonprogo sebetulnya tidak terlalu kebera-tan dengan kebijakan kenaikan BBM. Namun yang disayangkan, kebijakan itu tidak disertai dengan tindak lanjut kebijakan yang bersentuhan dengan usaha jasa transportasi itu sendiri.
“Kenaikan BBM ini kan tidak yang sekali ini, sudah beberapa kali. Seharusnya sebelum dinaik-kan Kementerian Perhubungan ambil kebijakan. Karena opera-sional di lapangan, seperti mau menaikkan tarif takut salah, ka-lau tidak jelas merugi sebab 60 persen biaya operasional itu dari BBM,” ucapnya.
Satu lagi, sambung Djuwardi, kebijakan kenaikan harga BBM itu seharusnya juga dipikirkan secara komperhensif. Terlebih kalangan pengusaha yang ada di lapangan juga diajak berem-bug, diminta sarannya atau diajak hitung-hitungan. “Seka-rang operator di lapangan saya sarankan untuk pandai-pandai merayu konsumen, bagaimana supaya kita bisa menaikkan ta-rif supaya tidak rugi, tetapi kon-sumen juga menerima dengan legowo,” bebernya. (tom/ila/ong)