GUNAWAN/RADAR JOGJA
OGAH MOGOK: Salah seorang sopir angkot jurusan Siyono-Wonosari menunggu penumpang, kemarin (19/11). Mereka tidak ikut aksi mogok masal seperti di kabupaten dan kota lain di DIJ.

Kenaikan Rata-Rata Rp 1.000

WONOSARI –Seruan mogok nasional dari organisai angkutan darat (Organda) tidak banyak pengaruhnya di Gunungkidul. Sopir angkutan kota (angkot) maupun angkutan desa (ang-kudes) tetap beroperasi seperti biasa. Hanya saja, mereka sudah menaikkan tarif.Salah seorang sopir angkot jurusan Siyono-Wonosari Paimo mengatakan tidak ada alasan untuk mogok beroperasi karena tidak ada untungnya. Lebih baik ngangkot seperti biasa supaya aktivitas masyarakat tidak ter-ganggu. “Kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) memang berat. Tapi harus bagaimana lagi, kalau saya tidak narik justru rugi,” kata Paimo, kemarin (19/11).
Namun demikian, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk segera mencari solusi terkait dampak yang ditimbul-kan akibat harga BBM yang naik. Jika tidak, masyarakat berpeng-hasilan kecil makin terpuruk. “Tolong juga, angkudes masuk kota itu ditertibkan. Sejak tahun 2011, kami mengeluh namun hingga sekarang masih saja ada angkudes cari penumpang jalur kota,” ujarnya
Hal senada juga diutarakan salah seorang sopir angkot juru-san Gading-Wonosari Joni. Menu-rutnya meski sepakat tidak menghendaki mogok operasi, dia meminta supaya pemerintah membantu kesulitan masyarakat terutama sopir.”Mogok tidak ada pengaruhnya. Saya lebih setuju jika melakukan pertemuan dengan wakil rakyat supaya dampak buruk tidak meluas,” kata Joni.
Ditemui saat menunggu pe-numpang, dia mengaku sudah menaikkan tarif Rp 1000. Sebe-lum BBM naik, tarif umum Rp 4 ribu dan pelajar Rp 2 ribu. Joni mengaku berat menaikkan tarif, namun apa daya beban operasionalnya membengkak. “Kasihan juga masyarakat ka-lau dinaikkan. Tapi bagaimana lagi, BBM naik biasanya diikuti dengan kenaikan harga-harga lain,” ucapnya.Sementara itu, Ketua Organi-sasi Angkutan Darat (Organda) Gunungkidul Henry Ardiyanto mendesak kepada pemerintah untuk segera membicarakan tarif baru. Dengan begitu, ada kejelasan payung hukum tentang penyesuaian tarif.
“Namun begitu, kalau kenaikan seperti yang diinformasikan pusat sebesar 10 persen menurut saya belum cukup jika disesuaikan dengan kenaikan BBM,” ujarnya.Disinggung mengenai tarif angkutan yang lebih dulu naik, Henry enggan berkomentar lebih jauh. Untuk itu, pihaknya men-desak pemerintah daerah untuk secepat mungkin melakukan pembahasan kaitannya dengan tarif baru.Di bagian lain, Kepala Dishub-kominfo Gunungkidul Purnama Jaya mengatakan meski diakui ada pengurangan jumlah angkutan yang beroperasi namun semua penumpang relatif te-rangkut. “Kaitannya dengan tarif baru, dalam waktu dekat kami akan mengundang Organda untuk membicarakan sejumlah hal pascakenaikan BBM,” kata Purnama Jaya.
Menurutnya barometer kenai-kan tarif tidak hanya BBM, namun juga ada komponen lain seper-ti suku cadang dan lainnya. Namun berdasarkan informasi awal, kenaikan tarif angkutan sekitar 10 persen. Mengenai tarif yang naik lebih dulu sebe-lum ada aturan, mantan kepala dinas PU tersebut menyerahkan kepada mekanisme pasar.Sementara itu, salah seorang pe-lajar Yunita sempat mengeluh karena angkutan Jogja-Wonosari terlambat datang. Alhasil, dia harus berdesak-desakan untuk sampai ke sekolah. “Biasanya tidak sampai lima menit bis datang, tapi kali ini lama,” keluhnya.(gun/ila/ong)