DWI AGUS/RADAR JOGJA
LEBIH SEGAR: Kontingen Gunungkidul yang hadir dengan lakon Matahati dalam Festival Ketoprak Kabupaten Kota se-DIJ, kemarin. Karena dimainkan kawula muda, pertunjukan ketoprak tampak lebih segar.

Digemari Kawula Muda, Pertunjukan Lebih Segar

JOGJA – Festival Ketoprak Ka-bupaten Kota se-DIJ kembali di gelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Diselenggarakan selama dua hari, Selasa (18/11) dan Rabu (19/11) ajang ini melibatkan ratusan pelaku seni. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Drs. Umar Priyono, M.Pd menyambut positif kegiatan rutin tahunan TBY ini. Umar Priyono mengatakan, dengan kegiatan ini merupakan bukti bahwa kesenian ketoprak masih eksis. Dina-mika masyarakat membuat kesenian ini turut berkembang. Baik dari kon-sep pementasan maupun jalan ce-rita yang diangkat.
“Jika kita melihat saat ini, baik pelaku maupun penonton, mayoritas generasi muda. Stigma ketoprak hanya milik orang tua bisa dipatahkan. Ini menyenangkan, terlebih untuk pelestarian ketoprak itu sendiri,” kata Umar (18/11). Umar menambahkan festival ini dapat menjadi sebuah promosi po-tensi. Selain hadir dengan cerita, setiap kontingen dapat menyisipkan po-tensi daerah, baik itu kesenian rakyat, kuliner maupun wujud kearifan lain-nya. ” Tentunya dengan diselipkan dalam setiap jalan cerita,” katanya.
Umar mencontohkan kontingen Gunungkidul yang mengusung kuliner khas gaplek. Ini bisa menjadi wujud khasanah, khususnya bagi penonton yang hadir. “Tidak semua penonton yang datang tahu akan potensi daerah. Festival ini bisa menjadi sebuah ke-kuatan dalam mempromosikan apa yang dimiliki,” tandasnya.
Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru menilai tampilan ketoprak saat ini sangat menarik. “Meski dalam kori-dor tradisi, tapi konsep garapan membuat kesenian ini tampil lebih segar,” ujarnya. Meski begitu Diah berharap agar ruh dari ketoprak ini tidak mati. Beberapa nilai wajib dipertahankan, seperti keprak, tembang ketoprak, unggah ungguh, solah bawa, karawi-tan Jawa dan tata busana. “Ruh ini adalah kekuatan dari ketoprak dan membuat tidak sekadar pertunjukan. Banyak nilai-nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan,” tutur Diah.
Pementasan ini juga merupakan wujud kepedulian TBY terhadap ke-senian di Jogjakarta. TBY sebagai UPTD Disbud memiliki kewajiban mengembangkan seni pertunjukan. Selain itu, juga sebagai laboratorium dan pustaka seni. Di hari pertama menampilkan kon-tingen Kabupaten Gunungkidul dengan lakon Matahati. Kota Jogja dengan lakon Pangeran Raditya. Ditutup penampilan kontingen Kabupaten Bantul dengan lakon Asoka.
Langkah unik diambil kontingen Kota Jogja dengan naskah drama klasik Yunani. Karya milik William Shakespeare ini digubah ke dalam.bentuk ketoprak. Naskah asli berjudul Hamlet ini dikolaborasikan ke dalam bentuk tradisi Jawa. “Dengan membebaskan tema, kita jadi bisa tampil secara kreatif. Sehingga tidak harus hadir dengan naskah Jawa. Tentunya ini bagus untuk pelestarian ketoprak,” kata sutradara pementasan Felmy Febri-anto Harton.
Festival Ketoprak ditutup dengan menampilkan dua kontingen dari Kabupaten Kulonprogo dan Kabupa-ten Sleman (19/11). Kontingen Kulonprogo hadir dengan lakon Kidung Ing Saradan sedangkan Kontingen Sleman menutup dengan lakon Judul Luluh. Turut tampil selingan Jampi Puyeng persembahan seniman ketoprak Jogjakarta. (dwi/jko/ong)