SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
SIMBOLIS : Wakil Gubernur DIJ Sri Paduka Paku Alam IX saat di hunian tetap Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan kemarin (20/11).
SLEMAN- Untuk petama kali-nya Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum RI menggelar tasyakuran atas selesainya program reha-bilitasi dan rekonstruksi masy-arakat dan permukiman berba-sis komunitas (rekompak) di kawasan lereng Merapi.Kemarin (20/11), warga dan pejabat kementerian, serta se-jumlah pejabat teras DIJdan Pemkab Sleman terlibat dalam kegiatan Kenduri Budaya “Gu-nung Omah”: Permukiman Ber-basis Pengurangan Risiko Ben-cana dan Eco-Settlement di hunian tetap Pagerjurang, Ke-puharjo, Cangkringan.
Kenduri budaya diisi dengan berbagai hiburan rakyat, se-perti, kuda lumping, layar tancap, dan kethoprak. Itu merupakan partisipasi warga huntap. Seba-gai wujud kemandirian atas terselenggaranya program re-kompak. Yang menarik, cerita kethoprak digali dari pengalaman warga saat erupsi hingga sekarang. Kethoprak ditampilkan oleh warga setempat. “Monggo mam-pir,” ajak Kepala Desa Kepu-harjo Heri Suprapto.
Bagi Heri, proses rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana erupsi Merapi 2010 cukup mem-bekas bagi warga. Sebab, semua menjadi korban keganasan gunung paling aktif di Indonesia itu. Tidak sedikit warga kehilangan kelu-arga dan rumah tinggal. Karena itu, atas kesadaran sen-diri, warga Kepuharjo rela me-ninggalkan kampung halaman yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III dan pindah ke Huntap Pagerjurang. Ken-duri budaya disebut “Gunung Omah”. (yog/din/ong)