GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TEATRIKAL: Mahasiswa melakukan aksi teatrikal menolak kenaikan harga BBM di simpang tiga Kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Kamis (20/11).
JOGJA – Setelah sempat me-naikkan secara sepihak kenai-kan tarif angkutan, Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ resmi menyurati Gubernur Ha-mengku Buwono X, kemarin (20/11). Di dalam surat tersebut, Organda mengusulkan kenaikan sama seperti yang mereka laku-kan sejak hari kemarin, yaitu 30 persen. Dengan usulan tarif sebesar 30 persen tersebut, jika dihitung maka tarif baru angkutan dalam kota menjadi Rp 3.900, dan luar kota dalam provinsi (AKDP) Rp 221 per kilometer.
Tarif angkutan sebelum ter-jadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Selasa (18/11) dinihari lalu, angkutan dalam kota Rp 3 ribu untuk penumpang umum, dan Rp 1.500 untuk ma-hasiswa atau pelajar, sementara tarif luar kota Rp 170 per kilo-meter
“Kami sudah sampaikan surat usulan ke gubernur melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ,” kata Agus Supriyanto, Ketua Or-ganda DIJ, kemarin. Agus menjelaskan, usulan kenaikan tarif ini berlaku me-nyeluruh. Baik untuk bus dalam kota, maupun AKDP, yaitu men-gusulkan kenaikan 30 persen. “Bus Jogja-Bantul, Jogja-Wono-sari, atau Jogja-Wates maupun yang beroperasi di dalam kota, kenaikannya sama, sebesar 30 persen,” jelasnya.
Kenaikan tersebut, lanjut Agus, masih akan dibahas dengan gu-bernur. Tapi, ia berharap, usulan tersebut bisa diakomodir HB X. “Ini masih usulan. Nanti, jika gubernur menyetujui, maka be-liau akan mengeluarkan SK (Surat Keputusan) seperti yang sudah-sudah,” tambahnya. Menurut Agus, usulan kenaikan tarif sebesar 30 persen ini sangat realistis, karena sudah memper-hitungkan berbagai variabel yang ada. Mulai dari kenaikan harga BBM, hingga kenaikan harga on-derdil lain. “Perhitungan kami yang paling realistis ya 30 persen ini,” tandasnya.
Mengenai keputusan dari Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang membatasi kenaikan tarif angkutan sebesar 10 persen, Organda DIJ menilai, keputusan pemerintah tersebut tak realis-tis. Kenaikan sebesar 10 persen tak sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan. “Masak, kami (pengusaha angkutan) yang menyubsidi masyarakat umum. Seharusnya kan pemerintah,” ujarnya. Meski baru mengusulkan kema-rin, pascamogok Rabu (19/11) lalu, Organda DIJ telah memberlakukan kenaikan 30 persen tersebut. Atas sikap Organda ini, para penumpang harus merogok kocek lebih dalam. “Tadi dimintai Rp 2.500,” kata Alif, salah seorang pelajar yang meng-gunakan bus kota.
Pelajar di salah satu SMP ne-geri di Kota Jogja itu mengaku, pulang-pergi, dirinya harus membayar Rp 5 ribu. “Dikasih uang sakut Rp 8 ribu. Sehingga tinggal sisa Rp 3 ribu untuk jajan,” katanya terkekeh-kekeh. Kepala Dishubkominfo DIJ Budi Antono mengaku, atas usu-lan tersebut pihaknya akan meng-kaji terlebih dahulu. Anton, pang-gilan akrabnya, masih menunggu instruksi dari pusat untuk menen-tukan tarif angkutan di DIJ. “Saya masih bersama Pak Gubernur di Jakarta. Setelah sampai Jogja, nanti baru akan dirapatkan (ke-naikan tarifnya),” terang Anton. Mengenai kenaikan tarif yang sudah dilakukan sepihak oleh Organda, Anton enggan menje-laskan tindak lanjutnya. Ia hanya memastikan, setiba di Jogja, bak-al membahas dampak kenaikan BBM ini bersama dengan HB X.
Travel Agent Sudah Nyaman
SEMNTARA ITU, jika untuk angkutan umum masih terjadi polemik terkait kenaikan tarif pascakenaikan harga BBM, maka tidak demikian bagi shutt-le bus ataupun travel agent. Ke-duanya sudah nyaman, karena rencana kenaikan tarif sudah jauh-jauh hari disosialisasikan pada pelanggan. Pemilik Harsa Tour Erdawati men-gatakan, kenaikan tarif setiap kali adanya kenaikan BBM sudah wajar terjadi di bisnis tur & travel. Terkait dengan hal itu, para calon penum-pang juga sudah bisa memahami. “Sampai saat ini belum ada pembatalan dari calon penum-pang, karena setelah BBM naik, besoknya, semua harga langsung kami revisi ulang,” ujar Erda ke-pada Radar Jogja, Kamis (20/11).
Menurutnya, kenaikan tarif yang diberlakukan mencapai 30 persen dari harga sebelumnya. Diakui, kenaikan 30 persen cu-kup tinggi, namun karena cost juga tinggi, dirinya menilai ke-naikan itu wajar. Apalagi yang terkait dengan transportasi dan konsumsi memang mendapat imbas langsung dari kenaikan BBM. “Misalnya untuk harga paket wisata, tentunya harus direvisi,” tandasnya. Tampaknya harga rental ken-daraan juga naik antara 20 hingga 30 persen. Namun untuk rental non BBM, tentunya tidak ada kenaikan.
“Rental mobil plus BBM untuk city tour yang tadirnya Rp 350.000 hingga Rp 400.000 kami naikan sekitar 30 persen,” ungkap Erda. Hal yang sama juga dilakukan shuttle bus. Salah satu staf Joglo-semar Executive Shuttle Bus Lisa mengatakan, kenaikan tarif sudah diberlakukan sejak 18 November. Penyesuaian tersebut, tidak berpengaruh pada penu-runan jumlah penumpang. “Kami sudah antisipasi dengan melakukan pemberitahuan soal kenaikan tarif, dan hingga hari ini tidak ada protes,” ujar Lisa.
Kenaikan tarif Joglosemar yang diberlakukan, yakni rute Jogja-Semarang dari Rp 70.000 men-jadi Rp 85.000, Jogja-Solo dari Rp 30.000 menjadi Rp 35.000, sedangkan Jogja-Purwokerto dari Rp 80.000 menjadi Rp 95.000. “Kenaikannya juga wajar, se-lisihnya sedikit, karena keba-nyakan sudah langganan, me-reka tidak keberatan,” ujar Lisa.(eri/dya/jko/ong)