RADAR JOGJA FILE
JADI NODA : Pertandingan PSS Sleman menjamu PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida AAU Minggu (26/10) lalu. Pertandingan yang dikenal sebagai sepak bola gajah ini akhirnya memakan banyak korban. Yang paling menyedihkan adalah hukuman terhadap para pemain kedua tim.
grafis-sepakbola-gajah

Rumadi dan Herkis Dihukum Seumur Hidup

SLEMAN-Komisi Disiplin (Komdis) PSSI akhirnya mengungkap aktor intelektual di balik terjadinya skandal sepak bola gajah antara PSS Sleman v PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU) Minggu (26/10) lalu.
Keputusan itu disampaikan di Jakarta tadi malam. Ketua Komdis Hinca Pandjaitan mengatakan, baik PSS dan PSIS memiliki aktor intelektual.
Untuk PSIS, manajer Wahyu Winarto sebagai orang yang menginstruksikan para pemain untuk membalas dua gol bunuh diri yang dilakukan PSIS. Dari kubu PSS, yang disampaikan sangat mengejutkan. Sebab orang ini hanya menjabat sebagai sekretaris Super Elang Jawa (Super Elja) yakni Erry Febrianto.
Hal ini tentu diluar prediksi publik. Sebab, awalnya, semua menduga kalau aktor intelektual adalah dua orang yang menjadi cucuk lumpah di manajemen PSS, yakni Supardjiono atau Rumadi. Ditambah lagi, kiprah pria yang akrab disapa Ableh ini belum terlalu kaya di sepak bola profesional. “Aktor intelektual dari kubu PSS adalah Erry Febrianto alias Ableh. Dia yang menginstruksikan para pemain PSS melakukan dua gol bunuh diri secara sengaja,” kata Hinca.
Erry divonis hukuman seumur hidup larangan berkiprah di dunia sepak bola dengan denda Rp 200 juta. Sanksi serupa juga diberikan pada Direktur Operasional PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Rumadi yang juga berada di pinggir lapangan tapi tak melakukan tindakan apapun.
Adapun pelatih kedua tim, Herry Kiswanto dan Eko Riyadi juga mendapat hukuman seumur hidup dengan denda sama Rp 200 juta. “Mereka (pelatih) yang seharusnya menegakkan sportivitas justru membiarkan hal itu terjadi. Jadi mereka juga kami hukum seumur hidup,” jelasnya.
Sedangkan untuk pelaku bunuh diri langsung, termasuk penjaga gawang saat terjadinya gol bunuh diri juga mendapat sanksi larangan bermain seumur hidup dengan denda Rp 100 juta. Pemain-emain ini adalah Riyono (kiper PSS), Catur Adi Nugroho (Kiper PSIS), Komaedi (PSIS), Fadil Manan (PSIS). Satu lagi pemain yang juga dihukum seumur hidup dengan denda Rp 100 juta adalah Saptono karena sebagai penyerang justru mencegah gol ke gawang PSS. “Saptono harusnya membuat gol ke gawang PSS malah mencegah gol tersebut terjadi. Ini jelas tidak lazim,” ungkapnya.
Pemain yang tidak terlibat bunuh diri secara langsung juga tidak luput dari sanksi berat. Para pemain yang bermain pada laga itu dilarang merumput selama lima tahun dengan denda. Pemain cadangan juga dihukum. Hukuman untuk pemain cadangan sendiri ialah sanksi larangan bermain selama setahun dengan masa percobaan lima tahun juga dengan denda.
“Kami menganggap mereka juga bagian dari sepak bola sandiwara ini, Bahkan ofisial lain termasuk measure dan kitman kami hukum larangan beraktivitas di sepak bola selama setahun,” jelasnya.
Hukuman khusus diberikan pada dua penggawa asing PSIS yang menjadi cadangan Ronald Fagundez dan Julio Alcorse. Mereka dilarang bermain selama lima tahun dengan denda Rp 150 juta.
“Kok pemain asing PSS Guy Junior dan Kristian Adelmund hukumannya sama dengan yang lokal? Karena mereka lebih kooperatif. Kalau Fagundez dan Alcorse tidak, Selain itu dua pemain ini kan juga sudah berpengalaman di tim besar Indonesia, seharusnya memberi contoh,” jelasnya.
Larangan beraktivitas sepakbola selama 10 tahun dan denda Rp 150 juta juga diberikan kepada asisten pelatih, Edi Broto dan pelatih fisik Erwin Sahrudin.
Beruntung bagi PSS karena Hinca menyatakan hukuman-hukuman ini dapat dibanding ke Komisi Banding (Komding) PSSI. Dengan begitu pihak terhukum masih bisa lolos dari jerat sanksi.
Sayangnya manajemen PSS belum memberikan tanggapan. Direktur PT PSS Supardjiono tidak mau mengangkat sambungan telpon dari Radar Jogja. Sedangkan Rumadi selaku orang yang juga terhukum seumur hidup hanya menjawab seadanya. “Saya belum mengetahui bagaimana keputusannya. Jadi saya belum bisa memberikan tanggapan,” jelas pensiunan Guru SMA Stella Duce 1 (Stece) ini. (nes/din/ong)