SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
KEMBALI NORMAL: Suasana di terminal Giwangan Jogja pascaaksi mogok angkutan umum karena kenaikan harga BBM, kemarin (20/11).
SEHARI pascamogok masal angkutan bus, sebagai bentuk protes atas dinaikannya harga BBM, situasi di Terminal Giwangan kembali normal seperti biasa. Tidak ada lagi penumpang yang telantar karena tidak adanya bus yang mengangkut. Bus dengan berbagai tujuan ke berbagai dae-rah kembali beroperasi dengan menaikkan tarif
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Giwangan Jog-ja Bekti Zunanta mengatakan, sebenarnya sejak Rabu sore (19/11), situasi di Terminal Gi-wangan sudah beraktivitas. Ba-hkan, bus dari Surabaya maupun Solo, sejak pagi tetap datang dan berangkat seperti biasa. “Untuk yang dari utara dan barat, sejak kemarin (Rabu) sore sudah mu-lai ada yang masuk dan berang-kat,” ujar Bekti, kemarin (20/11). Sebelumnya saat aksi mogok masal dilakukan, bus dari barat dihentikan di Purworejo dan yang dari utara berhenti di Ma-gelang. Namun menurut Bekti, untuk bus tujuan ke barat dan utara dari Terminal Giwangan sejak Rabu sore sudah membe-rangkatkan penumpang.
” Rabu pukul 14.00 sudah ada yang memberangkatkan ke Pur-wokerto dan Cilacap, sorenya juga sudah ada yang berangkat ke Semarang,” terangnya.Jumlah bus yang datang dan berangkat dari Terminal Gi-wangan, diakuinya juga sudah kembali seperti semula. Untuk bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dalam seharinya bisa mencapai 700 bus yang datang maupun berangkat. Sedangkan untuk bus antarkota dalam pro-vinsi (AKDP) dalam seharinya mencapai 230 bus. Seiring kondisi yang kembali normal, pihaknya sudah tidak menyiagakan kembali bus dan truk dari Pemkot Jogja maupun TNI dan Polri.
Sementara itu terkait tarif, diakui Bekti, sudah terjadi ke-naikan antara 10-30 persen. Menurut Bekti kenaikan tarif tersebut memang belum resmi. Hanya merupakan kesepakatan antara kru dan calon penumpang. Dirinya mencontohkan untuk bus tujuan Solo, dari tarif normal Rp 10 ribu menjadi Rp 12 ribu. Pihaknya juga tidak memperso-alkan, selama tidak menimbul-kan gejolak. “Sampai sekarang juga belum ada keluhan dari penumpang, tapi kalau ada yang menaikkan tarif terlalu tinggi akan kami panggil pengurus dan PO-nya (perusahaan otobus),” tegasnya.
Kenaikan tarif bus tersebut diakui oleh para kru bus. Bambang, salah seorang kru bus Jaya Putra yang melayani rute Jogja-Solo mengaku sudah ada instruksi dari PO untuk menai-kan tarif. Untuk rute Jogja-Solo yang sebelumnya dikenai Rp 10 ribu, saat ini menjadi Rp 12 ribu. Menurut Bambang, bus tu-juan kota lain juga sudah me-naikkan tarif. “Memang ada keluhan dari para penglaju, tapi dari penumpang biasa, tidak ada masalah,” ungkapnya.
Keluhan juga disampaikan salah seorang calon penumpang bus tujuan Jogja-Purwokerto, Faturahman. Mahasiswa UNY yang akan pulang ke Sumpiuh, Banyumas ini mengaku ada ke-naikan tarif. Jika biasanya Jogja-Sumpiuh dikenakan tarif Rp 35 ribu, mulai kemarin jadi Rp 40 ribu. “bagi kami sebagai maha-siswa, tentu ini memberatkan,” ujar Faturahman yang biasa pu-lang minimal sebulan sekali ini. Di bagian lain, aksi massa di Jogjakarta sebagai protes kenaikan harga BBM belum berakhir. Mas-sa yang tergabung dalam LMND, PMII, GMNI, HMI, SMI, Repdem, IMM, Sekber, FAM-J, Pembebasan, Cakrawala, BEM UIN, dan FL2MI, masih saja melakukan aksi di per-tigaan UIN Sunankalijaga Jogja, kemarin (20/11). Namun berkat kesiapsiagaan aparat, massa tak leluasa bergerak.
Dari jalannya aksi, ratusan massa lagi-lagi memblokir jalan Jogja-Solo. Kemacetan tak ter-hindarkan. Aparat kepolisian satuan lalu lintas kemudian mengalihkan arus agar ken-daraan terhindar dari aksi ter-sebut.Satu per satu perwakilan mas-sa aksi berorasi. Mereka kem-bali menyerukan bahwa kenai-kan harga BBM bersubsidi akan menyengsarakan rakyat kecil. Situasi ini berbanding terbalik saat Presiden Jokowi berkam-panye bahwa ia akan menjalan-kan roda pemerintahan yang pro terhadap rakyat.
Setelah beberapa menit bero-rasi, situasi di pertigaan UIN Sunankalijaga semakin ramai. Tak hanya ratusan polisi berse-ragam dan pakaian preman, warga masyarakat sekitar UIN juga berjaga-jaga di sepanjang jalan Jogja-Solo.Mereka khawatir jika aksi peno-lakan BBM ini akan menggang-gu keamanan dan ketertiban. Terlebih, pada Rabu (19/11) lalu, warga sempat melakukan perlawanan atas aksi itu. Akhirnya aksi kemarin (20/11) tak berlangsung lama, hingga akhirnya massa membubarkan diri. Sementara sejumlah per-sonel tetap bertahan di lokasi hingga kondisinya benar-benar aman. (pra/fid/jko/ong)