SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
UNGKAP KEKECEWAAN: Puluhan anggota kelompok suporter Slemania melakukan unjuk rasa dan menyegel kantor PT Putra Sleman Sembada (PT PSS).

Kantor PT PSS Disegel Kelompok Suporter Slemania

SLEMAN – Hukuman yang menimpa seluruh pemain PSS Sleman benar-benar membuat kelompok suporter Slemania meradang. Kemarin (21/11), kelompok suporter yang identik dengan atribut berwarna hijau ini mengadakan demonstrasi di depan kantor PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), sisi barat kompleks Maguwoharjo Inter-national Stadium (MIS).Sejatinya, aksi Slemania terse-but bertujuan untuk melakukan audiensi ke manajemen PSS di kantor PT PSS. Sayang, Slemania akhirnya harus gigit jari, karena tidak ada satupun manajemen yang menampakkan batang hi-dungnya.
Sikap keras pun akhirnya dit-unjukkan oleh organisasi yang secara de jure masih dipimpin Supriyoko ini. Bukan hanya se-kadar unjuk rasa, Slemania juga menyegel kantor PT PSS. Ini sebagai bentuk kemarahan su-porter terhadap manajemen PSS karena skandal sepak bola gajah membuat semua pemain dan tim pelatih menanggung akibat-nya. “Intinya kami menuntut manajemen untuk bertanggung jawab. Pardji (Supardjiono, Di-rektur PT PSS, Red) mana ini?,” teriak Joni sang orator demon-strasi.
Dalam penyegelan ini, Sle-mania memasang spanduk bertuliskan, “Manajemen Se-hat?” di pintu masuk kantor PT PSS. Awalnya Slemania juga ingin menggembog pin-tu tersebut. Namun karena keterbatasan peralatan, aksi ini tidak dilakukan.Pelaksana Tugas (PLt) Ketua Umum (Ketum) Slemania Lilik Yulianto menyatakan pihaknya tidak terima seluruh pemain dihukum. Untuk pemain yang dinyatakan sebagai eksekutor, Riyono, Hermawan Putra Jati dan Agus Setiawan, Lilik menyatakan tidak mau berkomen-tar. Yang dibela Slemania ialah pemain yang sejatinya tidak bersalah namun ikut terkena hukuman bera”Coba kita lihat bagaimana nasib Anang Hadi yang sebe-narnya tak salah apa-apa tapi disanksi lima tahun tak boleh main dengan deng-da Rp 50 juta. Begitu juga pemain lain. Besok ini mereka mau makan apa?,” jelas sosok yang berdomisili di Dusun Kay-en, Sleman tersebut.
Selasa (25/11) nanti Slemania bakal melayangkan surat ke Komdis. Kata Lilik surat tersebut berisi agar protes mereka ka-rena Komdis juga menghukum orang-orang yang sebetulnya sama sekali tidak bersalah. “Kami akan meminta Slemania Batavia juga untuk membantu melayangkan surat ke Komdis,” sergahnya.
Terkait keluarnya nama Sekre-taris Tim, Erry Febrianto sebagai aktor intelektual, Lilik menga-takan itu tidak masuk akal. Sebab, selama ini meskipun berlabel sekretaris, Ableh- julukan Erry Febriato- lebih sering melakukan tugas-tugas kecil di Super Elang Jawa (Super Elja). Sehingga tidak mungkin pemain rela melakukan gol bunuh diri secara sengaja jika hanya Ableh yang menyuruh. “Kepada Kom-dis pemain mengatakan Ableh yang memberi perintah. Ini pasti sudah diskenariokan sama manajemen,” ungkapnya.
Lilik menambahkan kemarin siang Ableh juga sudah meny-ambangi sekretariat Slemania guna menceritakan duduk ma-salah sesungguhnya. Lilik meng-klaim, Ableh memang mengaku hanya dikorbankan dalam skan-dal sepak bola gajah ini. “Saya jadi kasihan sama Ableh, karena dia pasti dihujat orang satu Sle-man. Padahal dia tak salah apa-apa,” jelasnya.
Menurut Lilik, ada satu pengakuan Ableh lainnya yang cukup mengagetkan. Di sidang Komdis, dia diperintahkan oleh Hinca untuk mengakui sudah memerin-tahkan pemain melakukan dua gol bunuh diri. Di sana Hinca menjanjikan, jika Ableh mau memberikan pengakuan, PSS akan bebas dari sanksi berat.
“Tapi kenyataannya pemain semua pemain PSS dan perang-kat tim sampai kitman dan measure juga kena. Dan anehnya Pak Pardji yang jelas-jelas me-megang posisi tertinggi di ma-najemen malah ditunda sanksi-nya dengan alasan dia tak hadir dalam sidang. Saya curiga ini ada permainan yang juga meli-batkan Komdis,” paparnya.
Kepada Slemania, Ableh juga mengaku siap dikonfrontir dengan manajemen. Rencana-nya Minggu (21/11) mendatang Slemania akan mendatangi ru-mah Supardjiono. Jika berhasil menemui pengusaha konstruksi ini, itu menjadi momen yang te-pat mempertemukan manajemen dengan Ableh. (nes/din/ong)