DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
KHAS SUKU ABORIGIN: Listyo Bramantyo dan bumerang buatannya.Karena serat dan lekukannya yang alami, bumerangnya pernah ditaksir Rp 1,4 juta.

Bukan Senjata, Peminatnya Justru Banyak dari Australia

Di awal kemunculannya, bumerang memang dikenal sebagai senjata khas suku Aborigin dari Australia. Bentuknya yang unik, membuat Listyo Bramantyo kepincut. Lelaki asal Kotagede, Jogja, ini pun mempelajari seluk beluk kayu untuk mendapatkan formulasi pas membuat bumerang. Mengenalkannya bukan lagi sebagai senjata, namun handycraft buatan Jogja.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
MELEWATI jalan kecil, terletak di pojok dekat benteng peninggalan kerajaan Mata-ram, kediaman Listyo tak berbeda jauh dengan rumah-rumah di sekitarnya. Di ru-mah asri inilah, bertahun-tahun dirinya memproduksi bumerang yang kini jumlah-nya sudah ribuan.Jatuh cinta pada pandangan pertama, menjadi pengalaman nyata yang dialami Listyo. Dari bentuk dan juga gerakannya yang unik, yakni ketika dilempar akan balik kembali ke pelemparnya, jadi tanda tanya besar yang secara perlahan dia temukan jawabannya satu per satu.
“Waktu itu masih kecil. Saya cuma lihat gambarnya saja, pas sudah gede baru se-makin penasaran, kok bisa benda yang su-dah dilempar bisa balik lagi,” ujar Ketua Komunitas Bumerang Jogja ini.Rasa penasarannya tidak hanya menjadi-kannya mahir main bumerang, namun memberikan gagasan untuk membuat. Ka-rena di awal tahun 1990-an, masih jarang yang menjual, apalagi memproduksi bu-merang di Indonesia. Karena keterbatasan bumerang untuk bisa dimiliki, Listyo akhir-nya mulai membuat sendiri.Dari fase coba-coba dan gagal, hingga mene-mukan formulasi dan bahan yang pas pun dila-koni. Saat itu, tidak banyak sumber yang bisa dijadikan referensi. Hanya mengikuti naluri dan mengikuti teori, setelah berbulan-bulan Listyo bisa membuat boomerang sendiri.”Itu baru bentuk dan bisa terbang, tapi kalau memilih kayu, saya sampai sekarang juga masih belajar, karena kontur kayu jadi dasar pembuatan bumerang
Jadi paling tidak kita harus tahu karakter tanaman,” papar-nya.Saat ini, selain bahan pabrikan, bumerang yang terbuat dari ba-han baku alam jadi incaran, terutama bagi kolektor. Tapi tidak semua jenis kayu bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bumerang. Kayu kemuning, akasia, sawo, walikukun, sono-keling, dan beberapa jenis pohon yang akar maupun batang ber-cabangnya bisa digunakan se-bagai bahan baku. Kayu solid seperti jati pun bisa, namun ha-nya akarnya yang mumpuni untuk digunakan.
Menurutnya, pohon yang bia-sanya tumbuh lambat dan lama biasanya bisa dimanfaatkan. Namun dari bahan baku itu, hasilnya juga bermacam-macam. Misalnya kayu jati biasanya un-tuk membuat bumerang yang dimainkan untuk fun, sedangkan yang medium biasanya meng-gunakan akasia, sedangkan yang membutuhkan lemparan jauh atau profesional biasanya meng-gunakan kayu sonokeling atau-pun walikukun.”Karakter dan serat kayu sam-pai sekarang saya pelajari. Un-tungnya di Jogja tidak sulit me-nemukan bahan. Saya juga sudah memiliki kenalan di daerah Dlingo, Bantul, yang mau men-carikan kayu. Kalau cocok, ya saya beli untuk produksi,” ujar salah seorang pencetus Asosia-si Bumerang Indonesia ini.
Soal bahan baku memang tidak sulit. Untuk itu, Listyo berani menawarkan bumerang buatan-nya, tidak hanya ke sesama teman komunitas, namun juga lewat jejaring sosial. Masuk tahun 2008, dirinya mulai memproduksi bumerang secara intens. Seti-daknya dalam sebulan ia bisa membuat 16 bumerang dari kayu, dan puluhan bumerang dari bahan pabrikan.Pembuatan bumerang dari bahan kayu tentu saja lebih me-nantang. Tidak hanya harus memiliki kesabaran menunggu kayu itu kering hingga kurang lebih dua bulan, tapi juga harus teliti melihat serat. Karena se-makin muncul seratnya, bume-rang yang jadi akan semakin indah. Apalagi bumerang dari kayu memiliki kelekukan yang alami. Inilah yang terkadang membuat nilai jual bumerang menjadi tinggi.
“Kalau pembuatannya sehari jadi, apalagi yang bahan pabri-kan, sehari juga bisa buat lima bumerang,” ujarnya di rumahnya yang terletak di Dalem RT 42 RW 10, Kotagede, Jogjakarta.Semakin hari Listyo mengaku semakin menikmati dunia bu-merang ini. Apalagi, banyak orang dari negara lain yang melirik bumerang buatannya. Belum lama ini dia mengirim bumerang pesanan kenalannya di Jerman, sempat juga mengirim bebera-pa ke Jepang, Brazil, dan bahkan dari negeri asalnya, Australia.Bumerang kayu buatannya dijual mulai dari Rp 100.000. Namun karena serat dan leku-kannya yang alami, bumerang buatannya pernah ditaksir hing-ga Rp 1,4 juta.
“Kalau pengiriman ke luar me-mang agak sulit, terkait pajak. Makanya saya selalu menuliskan di pengirimannya kalau ini han-dycraft, karena pada kenyataan-nya ini buat mainan dan kol-eksi,” ujarnya.Menurutnya, saat ini bumerang semakin diminati masyarakat, entah hanya untuk sekadar hobi melempar maupun koleksi. Imej bumerang sebagai senjata, lama kelamaan telah terkikis. Tak jarang rumahnya dikunjungi mereka yang tertarik untuk belajar mem-buat bumerang.
“Sampai sekarang saya ber-sama asosiasi juga masih berju-ang untuk diakui KONI, karena di asosiasi dunia saja ini sudah diakui. Itu yang saya dan teman-teman sedang perjuangkan,” ungkap Listyo. (*/laz/ong)