DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
HARU: Ben Guefrache Fatma dari Tunisia meraih mahkota WMA 2014 di kompleks Candi Prambanan, Jumat malam (21/11).

Ben Guefrache Fatma Tak Percaya Menang

SLEMAN – Ben Guefrache Fatma meraih mahkota World Muslimah Award (WMA) 2014. Ilmuwan kom-puter asal Tunisia ini dinilai sebagai pribadi yang solehah, smart dan stylish untuk menjadi duta muslimah dunia (21/11).
Di babak terakhir atau babak Mizan, Fatma mendapat 51 suara, selisih tipis dengan Nazreen, finalis asal India yang kemudian menjadi run-ner up dengan perolehan 49 suara. Berbeda dengan ajang kontes pada umumnya yang mengandalkan pe-nilaian juri atau penonton umum, dalam penghargaan internasional untuk muslimah ini dua besar fina-lis dipilih langsung oleh 100 anak yatim sebagai juri kehormatan
“Saya tidak bisa berkata apa-apa. Semoga Allah SWT mem-bantu saya menjalankan amanah ini,” ujar Fatma, seusai disemat-kan mahkota oleh Obabiyi Ais-hah Ajibola, pemenang WMA 2013 asal Nigeria.Wanita berusia 25 tahun ini tidak kuasa menahan tangis. Rasa tidak percayanya masih larut ketika dirinya diminta un-tuk mengatakan sesuatu atas kemenangannya.
“Alhamdullilah, semoga Allah SWT membantu saya, mem-bantu membebaskan Palestina dan rakyat Suriah. Bebaskan Palestina!,” ujar Ben Guefrache Fatma yang malam itu tampak anggun mengenakan busana muslim warna hijau.
Dalam malam Grand Final WMA 2014, Ramayana Ballet Theatre Jogjakarta disulap dengan nu-ansa lebih Islami. Dengan latar belakang Candi Prambanan dan aksentuasi panggung berkonsep Islami dengan replika kubah di beberapa sisi, ke-18 finalis WMA 2014 tampil anggun di depan ratusan lebih penonton. Mereka merupakan muslimah berpresta-si dengan latar belakang ber-beda, mulai guru hingga dokter.
Seharusnya ada 25 finalis yang ikut bergabung dalam masa ka-rantina hingga grand final. Namun, tujuh finalis di antara-nya dinyatakan gugur karena tidak hadir , menyusul berbagai kendala keberangkatan dari ne-garanya masing-masing. Ke-18 finalis yang hadir berasal dari Indonesia, India, Bangladesh, UK, Trinidad, Tunisia, Malaysia, Singapura, Nigeria dan Iran.”Acara tetap harus berlangsung, beberapa di antara finalis juga ada yang terlambat sampai ke Indonesia. Ini juga akan jadi evaluasi kami pada penyeleng-garaan selanjutnya,” ujar Foun-der dan CEO World Muslimah Foundation Eka Shanty.
Keempat kalinya penghargaan internasional ini digelar. Setiap tahun ada negara baru yang anak mudanya ikut dalam ajang pemi-lihan ini. Proses panjang yang dilalui para peserta hingga men-jadi finalis dan pemenang, diha-rapkan dapat menjadi duta dan berperan aktif bagi muslimah di seluruh dunia.Tidak hanya itu, Eka menam-bahkan, penonton dan masy-arakat umum pun juga bisa belajar dan menambah wacana dari ajang penghargaan inter-nasional ini. Karena banyak pesan dakwah dan simbol-sim-bol kebaikan dalam acara ini.
“Di akhir babak kita juga undang anak yatim sebagai juri kehorma-tan, sebagai simbol bawalah orang miskin dalam acara yang kita ge-lar, rangkul mereka berbagi ber-sama,” ujarnya. Selain menjadi juri kehormatan, 100 anak yatim itu juga mendapat beasiswa pen-didikan. (dya/laz/ong)