DWI AGUS/RADAR JOGJA
SEVEN SPIRIT OF GOOD: Melalui karyanya, Jesaya Jerry P ingin bercerita tentang perjalanan spiritualnya.
JOGJA – Tembok ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) kembali menyajikan karya seni rupa. Belasan karya lukis komikal tersaji secara apik dalam pameran presentasi tunggal bertajuk Seven Spirit of Good (Spiritual Journey 2014)]. Karya-karya ini merupakan torehan dari perupa Jesaya Jerry P.Uniknya, unjuk karya yang sejatinya pa-meran ini diganti menjadi presentasi. Me-ski beda kata, secara makna tetaplah sama. Sang seniman Jerry mengungkapkan pe-maknaan kata ini. Baginya penggunaan kata presentasi lebih pas daripada pameran.”Unjuk karya kali ini seperti wujud kegeli-sahan dalam pencarian. Sehingga dari nama memang lebih pas presentasi karya
Melalui karya ini ingin men-cari jawaban yang dirasakan,” katanya saat ditemui di BBY, kemarin siang (23/11).Pameran kali ini merupakan suatu hal yang baru darinya. Perbedaan ini, menurutnya, adalah sebuah proses dalam kehidupan manusia. Begitu pula dalam berkarya, pasti me-nemukan fase yang baru dan berkembang.
Diakui, presentasi kali ini me-mang memuat kegelisahan. Seperti dalam karya yang berjudul Puskesmas. Karya ini menyajikan beberapa objek imajinatif yang dipoles dalam kekayaan warna. Dua sosok mirip manusia terli-hat sedang bermain catur.Lalu ada sebuah gambaran layaknya sebuah asap. Asap ini terlihat mengepul dari salah satu pemain catur. Jerry mengi-baratkan asap ini adalah sebuah energi yang lepas dan menyatu dengan alam. Energi ini bisa terwujud sebagai kekuatan po-sitif dan negatif.
“Pada dasarnya semua manu-sia memiliki energi ini. Dalam karya terlihat seperti orang yang melepas penat atau beban hidup. Semuanya seakan lepas dan menyatu dengan alam. Tapi ini tetap butuh sebuah panutan yaitu sang pencipta,” katanya.Melalui presentasi ini pula Jerry ingin bercerita tentang perjalanan spiritualnya. Sebagai seniman, kegelisahan seakan menjadi teman kesehariannya. Baik itu terkait ide dalam ber-karya atau pun kehidupan sosi-alnya
Ketakutan ini sirna ketika pen-carian ini tertambat pada keper-cayaan spiritualnya. Ide-ide kreatif pun terus berdatangan untuk diwujudkan. Bahkan dia-kui olehnya, proses kali ini lebih santai dan tenang dalam men-ghasilkan karya.Ini pula yang mempengaruhi karyanya dalam segi pewarnaan. Di awal berkarya seniman asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, ini identik dengan warna kelam. Warna hitam dan merah men-dominasi setiap karya yang di-hasilkannya
“Ini pula yang menuntun untuk bermain dengan warnba cerah. Salah satu karya saya, Alter Ego, merupakan pencarian. Untuk karya ini saya puasa selama tiga hari, tidak makan, minum dan tidak berinteraksi,” ungkapnya. (dwi/laz/ong)