HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
TETAP SEMANGAT: Edi Priyanto, setiap hari menempuh 12 Km PP dengan kursi roda dari rumah ke sekolahnya di SMPN 2 Sewon. Ia ingin bersekolah setidaknya sampai SMA.

Sampai Sekolah Paling Gasik, Setiap Hari Tempuh 12 Km

Keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang meraih cita-cita. Jika punya semangat, pasti ada jalan untuk menggapai harapan itu. Inilah prinsip seorang bocah difabel, Edi Priyanto, yang gigih demi bisa bersekolah.
HERI SUSANTO, Bantul
JARUM jam menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Belum begitu banyak orang yang bangun dari istirahat malamnya. Apalagi untuk anak yang berusia belasan tahun. Selimut lengkap dengan bantal dan guling masih melekat di tubuhnya.Tapi, ini tak berlaku bagi Edi Priyanto, pelajar difabel yang mengandalkan kursi roda sebagai penopang aktivitas. Saat ayam jago mengawali kokok pertama, Edy sudah mengawali aktivitasnya. Ia memulai hari dengan membasuh muka dengan dinginnya air.
Ia lantas mengambil alat salat untuk menu-naikan ibadah sunah. Ini ia lakukan sudah sejak SD, dengan dibantu sang ibu yang selalu membangunkan anak semata wa-yangnya tersebut untuk berdoa kepada Sang Khalik.
“Dulu sering dibangunkan. Sekarang su-dah bangun sendiri,” jelas Edi, kala ditemui di ruang kelasnya, SMPN 2 Sewon, usai mengikuti les, Sabtu (22/11) lalu.
Selesai menjalani ritual sehari-hari itu, Edi kemudian mempersiapkan buku pela-jarannya. Saat inilah lulusan SD N Wijirejo de ngan nilai ujian nasional (Unas) rata-rata tujuh ini belajar. Jika ada pekerjaan rumah, ia kerjakan. “Kalau tidak ya meng ulangi pe lajaran yang sudah diajarkan,” tuturnya polos
Setelah persiapan ia rasa sudah cukup, Edi melanjutkan aktivitas awal itu dengan mandi. Dengan suhu air yang tentu saja masih cukup dingin. Tapi, bagi Edi air dingin malah menjadikan diri-nya bersemangat segera menem-puh perjalanan sekitar enam kilometer ke sekolah.
“Salat subuh, sarapan, baru jam lima berangkat ke sekolah,” cerita anak yatim sejak kecil ini. Keluar dari pintu rumah, mata-hari memang masih belum be-gitu terang menunjukkan sinar-nya. Edi sudah berada di atas kursi rodanya untuk melewati jalan kampung dan aspal Jalan Parangtritis menuju sekolah.
Pergi dan pulang (PP) sekolah dengan jarak 12 Km, Edi menga-ku hanya ditemani dengan kursi rodanya yang sudah mulai rusak. Ini ia lakukan dalam se-gala cuaca. Baik kala cerah mau-pun hujan, Edi terbiasa meng-gapai cita-citanya seorang diri. Jika hujan, ia hanya mengandal-kan jas hujan. “Dulu pas SD juga sering sendiri,” kenang bocah kelahiran 30 Oktober 1997 ini.
Saat masih menempuh pen-didikan dasar, jarak tempuhnya malah lebih jauh. Sekitar 12 ki-lometer. Sebab, rumahnya be-rada di Manggung, Sumberagung, Jetis, sedangkan sekolahnya di SD N Wijirejo, Palbapang, Ban-tul. “Kalau ibu lagi tidak bisa mengantar, biasanya sendiri,” ujar pelajar kelas VII ini.
Kebiasaan bangun pagi sejak masih di SD inilah yang masih terus dilakukan Edi. Bahkan ka-rena kebiasan ini, Edi mengalahkan teman-temannya yang diantarkan sepeda motor atau naik sepeda. Edi sampai di sekolah paling awal. “Sampai sekolah biasanya jam 6 kurang lima menit,” terangnya.
Edi mengaku menolak dian-tarkan sang ibu dengan sepeda ke sekolah. Ia memilih meng-gunakan kedua tangannya untuk memutar kursi rodanya menem-puh lima kilometer atau 55 me-nit ke sekolah. “Biar melatih mandiri,” jawabnya singkat.Semangat Edi tak hanya ka-rena ingin mandiri. Perjuangan-nya untuk bisa bersekolah hanya ingin kelak ia bisa membantu sang ibu yang kesehariannya
sebagai pengayam kepang. Ia tak ingin melihat ibunya masih bekerja keras hanya untuk dirinya. “Pengin kerja dan bisa bantu ibu,” tuturnya.
Edi menjelaskan, dengan kon-disinya yang mengalami osteo-genesis imperfekta atau penya-kit tulang rapuh sejak kecil, bukanlah penghalang. Ia berkeinginan akan melanjutkan stu-dinya sampai bangku SMA. Kemudian bekerja untuk mem-bantu menghidupi keluarga.Keterbatasan fisik dan kursi roda yang mulai banyak berka-rat karena tersiram air hujan itu, tetap tak membuat dirinya mengeluh. Ia terus bertekad akan berusaha untuk menggapai cita-citanya bisa membantu sang ibu. (*/laz/ong)